Cerita Mengejutkan Pasien Suspect Virus Corona: Ruang Penuh Pasien Batuk, Pulang dengan Taksi Online
Namun, Fachri menilai ruangan itu tak layak digunakan enam orang, pasalnya normalnya digunakan untuk dua orang saja.
Setelah hasil rontgen keluar, ia dinyatakan bronkitis serta pasien suspect Corona.
"Dan belum ada yang dinyatakan suspect Virus Corona baru setelah dua jam, tim dokter menyatakan bahwa saya terkena bronkitis dan saya adalah suspect Corona," tuturnya.
Namun, sempat ada kesimpang-siuran informasi dari tim medis terkait langkah yang dilakukan selanjutnya.
"Tapi di sini ada kesimpang siuran informasi, jadi sebelum saya masuk ruang isolasi, ada pihak dokter ada apa istilahnya informasi yang tidak konsisten."
"Awalnya saya bisa dikatakan saya bisa langsung pulang untuk isolasi diri di rumah, setelah itu dikatakan bahwa saya bisa ke rumah sakit rujukan lain dengan menggunakan kendaraan umum atau taksi online," ungkap dia.
Lantas, Fahri menyebut bahwa ruang isolasi rumah sakit rujukan di Jakarta sudah penuh.
"Lalu dibilang lagi saya harus ada di ruang isolasi di rumah sakit tersebut sampai dapat kamar di rumah sakit itu atau rumah sakit lain."
"Karena rumah sakit rujukan di Jakarta itu kamar isolasinya penuh," ungkapnya.
Meski demikian, akhirnya ia disuruh menunggu di ruang isolasi rumah sakit itu.
"Tadinya, akhirnya informasi itu diralat oleh pihak rumah sakit.Katanya harus standby di ruang isolasi sampai dapat kamar."
"Untuk ruang isolasi sendiri, ada enam orang termasuk saya, tiga orang di kasur, tiga orang di kursi roda," ucapnya.
Namun, Fachri menilai ruangan itu tak layak digunakan enam orang, pasalnya normalnya digunakan untuk dua orang saja.
"Padahal ruang itu propernya hanya untuk dua orang saja, jadi sudah tidak ideal, sudah tidak ada jarak yang ideal antar sesama pasien suspect corona, dan juga tidak ada pembatas," ungkapnya.
Meski demikian, akhirnya dua orang dipindah entah ke mana.
Fachri menyebut dirinya berada di ruang isolasi pada Minggu malam hingga Senin pagi.