WIKIJAMBI Museum Siginjei Tiga Kali Berubah Nama, Begini Ceritanya

TRIBUNJAMBI/DENI SATRIA BUDI
Pengunjung Museum Siginjei Kota Jambi. 

WIKIJAMBI Museum Siginjei Tiga Kali Berubah Nama, Begini Ceritanya

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Museum Siginjei beberapa kali berubah nama. Ada 3 proses pembangunan gedung Museum Siginjei, peletakan batu pertama oleh Gubernur Kepala Daerah TK.I Provinsi Jambi Maschun Sofwan, S.H, pada saat museum di bangun menjadi gedung tanggal 6 Juni 1988 diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Fuad Hasan.

Berdasarkan UU no. 12 tahun 1999 tentang otonomi daerah, Museum Negeri Provinsi Jambi berubah Nama menjadi Museum Negeri Jambi melalui Perda no. 15 tahun 2002.

Kemudian berdasarkan Peraturan Gunernur (Pergub) tanggal 30 Oktober 2012 Museum Negeri Jambi berubah nama menjadi Museum Siginjei. Selain karena itu juga, perubahan ini dikarenakan Museum Negeri Jambi harus memiliki identitas sendiri.

Hakim PN Sengeti Nyatakan PT Tegas Nusantara Indah Bersalah Lakukan Illegal Logging

Rampok di Bungo Gunakan Senjata Api, Polres Klaim Baru Pertama Terjadi di 2020

Kopi Kiran Kamu Hadir di Jambi, Tempat Nyaman untuk Berdiskusi Sambil Ngopi

“Memang karena selain peraturan, museum ini juga harus punya identitas, dan kita Provinsi Jambi memiliki keris Siginjei yang sangat melegenda dan sekarang menjadi kebanggaan kita, yang sekarang di simpan di Museum Nasional Jakarta,” jelas Rimala Isma selaku Kasi Bimbingan dan Publikasi.

Pemilihan tempat untuk pembangunan juga tidak sembarangan, memilih tempat yang tempat dan juga strategis.

“Ini adalah tempat yang paling strategis, bahkan kalau ada tamu-tamu dari museum lain seperti provinsi lain, keren sekali Jambi ini. Kedua, museum tempatnya sangat strategis, di tengah kota juga, baik Museum Perjuangan Rakyat Jambi maupun Museum Siginjei,” jelas Mudzakir selaku Kasubag TU Museum Siginjei.

Museum Siginjei mudah ditemukan, karena museum tidak hanya sebagai tempat penyimpanan benda-benda tetapi juga sebagai tempat wisata edukasi.

“Untuk promosi daerah, destinasi wisata yang harus dikunjungi, kalau museum destinasi wisata edukasi terus yang terkahir harus menjadi tempat yang menyenangkan, jadi tempatnya harus strategis, dan kebetulan dapat,” tutup Mudzakir.