Selasa, 2 Juni 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

WIKIJAMBI Jembatan Rantau Keloyang, Jejak Peninggalan Kolonial Belanda di Bungo

Konon, sekitar awal 1900-an, orang-orang Belanda mulai berdatangan ke Kabupaten Bungo. Kedatangan mereka hingga kini masih meninggalkan jejak.

Tayang:
Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Teguh Suprayitno
Tribunjambi/Mareza
Jembatan Rantau Keloyang, peninggalan sejarah Belanda di Bungo. 

 Jembatan Rantau Keloyang, Jejak Peninggalan Kolonial Belanda di Bungo

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BUNGO - Konon, sekitar awal 1900-an, orang-orang Belanda mulai berdatangan ke Kabupaten Bungo. Kedatangan mereka hingga kini masih meninggalkan jejak.

Berikut peninggalan masa kolonial Belanda yang Tribunjambi.com himpun.

Jembatan Rantau Keloyang

Hingga 2018 lalu, masyarakat Dusun Rantau Keloyang masih bergantung pada sebuah jembatan tua sebagai akses transportasi menyeberangi Sungai Batang Pelepat. Kini, sudah dibangun jembatan baru, tepat di sebelah jembatan tua.

Jembatan Rantau Keloyang namanya. Menurut penuturan masyarakat setempat, jembatan itu selesai dibangun pada 1937, saat masa penjajahan Belanda.

Syafrial, Kasi Pemerintahan Dusun Rantau Keloyang menjelaskan, jembatan itu pertama kali dibangun dengan kayu bulian.

Pemprov Jambi Masih Upayakan Gelar Pahlawan Nasional untuk Beberapa Pejuang Jambi

KPU Kota Jambi: Anggota PPK Jangan Malu Konsultasi

Warga Dusun Sendaran Terkapar Dibacok Parang Adik Ipar, Gara-gara Kerbau Masuk Sawah

"Kalau tengok dari tahun yang tertulis di sana, tahun 1937, tapi mungkin bisa sebelum itu dibangunnya. Pertama kali pakai kayu bulian," tuturnya.

Namun, informasi lain yang Tribunjambi.com peroleh, jembatan itu mulai dibangun pada awal 1920-an. Dulu, jembatan itu menjadi akses jalan yang dibuat kolonial Belanda untuk menghubungkan lintas Sumatera.

Syafrial memperkirakan, jembatan itu selesai dibangun pada masa pemerintahan datuk rio (kepala desa) kedua, H Sa'ad yang juga dikenal dengan nama Rio Rumah Gadang.

"Perkiraan kami pas pemerintahan H Sa'ad. Rio kedua beliau," ujarnya.

Bahkan, hingga sekitar tahun 1980-an, jembatan itu masih menghubungi Lintas Sumatra.

"Sekitar 1980-an, Jalan Lintas Sumatra pindah. Padahal dulu, Jalan Lintas Sumatra itu di sini (Rantau Keloyang), belum di tempat yang sekarang," terangnya.

Beragam kendaraan pada masa lalu melintasi Jembatan Rantau Keloyang. Namun belakangan, jembatan itu hanya difungsikan untuk kendaraan kecil, seperti sepeda motor dan mobil-mobil kecil. Hal itu bertujuan untuk menjaga kondisi jembatan.

Di ujung jembatan, dipasang plang, agar truk-truk atau kendaraan berat tidak bisa lewat. Apa lagi, kini sudah ada jembatan baru yang bisa difungsikan untuk menjadi tempat lalu kendaraan berat.(Tribunjambi.com/ Mareza Sutan A J)

Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved