Virus Corona Bawa Dampak pada Penurunan Harga Minyak ke Level Terendah dalam Setahun

Melansir Reuters, minyak mentah Brent ditutup pada US$ 53,43 per barel, merosot US$ 1,52, atau 2,77%. Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate

Editor: Suci Rahayu PK
REUTERS/Daniel Becerril/File Photo
ILUSTRASI. A general view shows Mexican state oil firm Pemex's Cadereyta refinery, in Cadereyta, Mexico October 5, 2019. Picture taken October 5, 2019. 

Virus Corona Bawa Dampak pada Penurunan Harga Minyak ke Level Terendah dalam setahun

TRIBUNJAMBI.COM, NEW YORK - Harga minyak turun ke level terendah lebih dari satu tahun pada perdagangan Rabu (26/2).

Setelah ratusan kasus virus corona yang dilaporkan di Eropa dan Timur Tengah memicu kekhawatiran akan menurunkan permintaan minyak.

Melansir Reuters, minyak mentah Brent ditutup pada US$ 53,43 per barel, merosot US$ 1,52, atau 2,77%.

Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menetap di US$ 48,73 per barel, turun US$ 1,17, atau 2,34%.

Di awal sesi, kedua acuan harga minyak ini mencapai titik terendah sejak Januari 2019, dengan Brent turun ke US$ 53,03 per barel dan WTI merosot ke US$ 48,30.

Ilustrasi kilang minyak
Ilustrasi kilang minyak (Reuters)

Harga minyak mengikuti jatuhnya harga minyak setelah adanya laporan 83 orang sedang dipantau di New York, kemungkinan terpapar virus corona.

"Setiap kali berita utama keluar, khususnya yang berkaitan dengan kasus-kasus baru di AS seperti New York, yang masuk dan memaksa penjualan tambahan dan mendorong input fundamental normal ke sela-sela," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates.

Kasus-kasus pertama virus dikonfirmasi di negara-negara termasuk Yunani, Georgia, dan Brasil, sementara pihak berwenang memberlakukan lebih banyak pembatasan perjalanan dan karantina di berbagai benua.

23 Orang Tewas dalam Demo Menentang UU Kewarganegaraan di India

China Catatkan Angka Kematian Virus Corona Terendah 3 Pekan Terakhir, 52 Meninggal Karena Covid-19

Harga sempat berubah positif setelah pemerintah AS melaporkan penurunan persediaan bensin pekan lalu.

Stok minyak mentah tumbuh 452.000 barel menjadi 443,3 juta barel, lebih sedikit yang diperkirakan analis kenaikan 2 juta barel.

"Ini masih tentang virus di sini," kata Bob Yawger, director of energy futures Mizuho di New York. "Akan sulit bagi aset berisiko untuk mengumpulkan momentum."

Sumber: Kontan 

Sumber: Kontan
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved