Virus Corona Bawa Dampak pada Penurunan Harga Minyak ke Level Terendah dalam Setahun
Melansir Reuters, minyak mentah Brent ditutup pada US$ 53,43 per barel, merosot US$ 1,52, atau 2,77%. Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate
Virus Corona Bawa Dampak pada Penurunan Harga Minyak ke Level Terendah dalam setahun
TRIBUNJAMBI.COM, NEW YORK - Harga minyak turun ke level terendah lebih dari satu tahun pada perdagangan Rabu (26/2).
Setelah ratusan kasus virus corona yang dilaporkan di Eropa dan Timur Tengah memicu kekhawatiran akan menurunkan permintaan minyak.
Melansir Reuters, minyak mentah Brent ditutup pada US$ 53,43 per barel, merosot US$ 1,52, atau 2,77%.
Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menetap di US$ 48,73 per barel, turun US$ 1,17, atau 2,34%.
Di awal sesi, kedua acuan harga minyak ini mencapai titik terendah sejak Januari 2019, dengan Brent turun ke US$ 53,03 per barel dan WTI merosot ke US$ 48,30.

Harga minyak mengikuti jatuhnya harga minyak setelah adanya laporan 83 orang sedang dipantau di New York, kemungkinan terpapar virus corona.
"Setiap kali berita utama keluar, khususnya yang berkaitan dengan kasus-kasus baru di AS seperti New York, yang masuk dan memaksa penjualan tambahan dan mendorong input fundamental normal ke sela-sela," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates.
Kasus-kasus pertama virus dikonfirmasi di negara-negara termasuk Yunani, Georgia, dan Brasil, sementara pihak berwenang memberlakukan lebih banyak pembatasan perjalanan dan karantina di berbagai benua.
• 23 Orang Tewas dalam Demo Menentang UU Kewarganegaraan di India
• China Catatkan Angka Kematian Virus Corona Terendah 3 Pekan Terakhir, 52 Meninggal Karena Covid-19
Harga sempat berubah positif setelah pemerintah AS melaporkan penurunan persediaan bensin pekan lalu.
Stok minyak mentah tumbuh 452.000 barel menjadi 443,3 juta barel, lebih sedikit yang diperkirakan analis kenaikan 2 juta barel.
"Ini masih tentang virus di sini," kata Bob Yawger, director of energy futures Mizuho di New York. "Akan sulit bagi aset berisiko untuk mengumpulkan momentum."
Sumber: Kontan