ISIS

Akankah Anak Indonesia Eks ISIS yang Berusia Di Bawah 10 Tahun Layak Dipulangkan?

Pemulangan Warga Negara Indonesia atau WNI mantan anggota ISIS di Suriah nampaknya tak akan terealisasi.

AAREF WATAD / AFP
Anak-anak Indonesia eks ISIS mencurahkan isi hatinya saat berada di kamp di Suriah. Saat orangtua mereka tiada, mereka mengaku tak tahu harus ke mana. (Foto: Anak-anak berjalan di atas tanah berlumpur sambil memegang bahu di sebuah kamp di dekat desa Killi di Provinsi Idlib, Suriah. 

"Korban itu bukan hanya yang kena serpihan bom, tapi anak-anak pelaku teroris. Mereka korban ideologi yang salah dan sesat dari orang tuanya," ujarnya.

"Kalau nggak dikembalikan malah lebih bahaya, mereka akan gabung dengan tokoh-tokoh teroris internasional. Mereka akan lebih ISIS daripada ISIS itu sendiri. Bahayanya lebih besar dari manfaatnya," ujarnya.

Khairul menambahkan ia kecewa dengan putusan pemerintah untuk tidak mengembalikan ratusan WNI eks ISIS dari Suriah dengan alasan keamanan.

Dia mengklaim teroris bisa diubah pola pikirannya dengan program deradikalisasi.

Ia merujuk sejumlah eks teroris yang kini membantu pemerintah, seperti Ali Fauzi dan Ali Imron.

Meski ada kasus-kasus di mana eks teroris kembali radikal, kata Khairul, hal itu tidak boleh digeneralisasi.

"Benar, ada satu atau dua orang yang yang dibina BNPT jadi bomber, seperti suami-istri yang (melakukan bom di) Filipina itu. Tapi itu nggak bisa digeneralisir," ujarnya, merujuk peristiwa pengeboman gereja di Filipina tahun 2019.

"Program deradikalisasi memang belum optimal, tugas kita lah menyempurnakannya," ujarnya.

Nasib Anak Indonesia Eks ISIS di Suriah Hidup Tanpa Arah

Anak-anak Indonesia yang dibawa orangtuanya ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS kini harus hidup tanpa arah.

Pengakuan anak mantan ISIS itu menyebutkan dirinya kini hidup tanpa orangtua semenjak roket menghantam kamp-kamp mereka.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo menegaskan dirinya menolak pemulangan WNI eks ISIS di Suriah.

Dilansir dari Tribunnews.com dalam artikel 'Cerita Anak Indonesia Eks ISIS di Suriah: Orang Tua Saya Sudah Meninggal, Tak Tahu Mau Kemana Lagi' berikut kisahnya.

Adalah Yusuf, salah satu anak WNI yang dibawa orangtuanya untuk bergabung dengan ISIS di Suriah.

Setelah kepergian orangtuanya, Yusuf kini harus bertahan dan hidup tanpa arah di Kamp Al-Hol di Suriah Timur Laut.

"Orang tua saya dan saudara-saudara saya sudah meninggal ... saya tak tahu mau ke mana.

Saya akan bertahan di sini," kata anak yang mengaku bernama Yusuf kepada wartawan BBC, Quentin Sommerville yang menemuinya di Al-Hol.

Seorang ibu berjalan sambil membawa tas koper dan diikuti dua anaknya ketika meninggalkan Baghouz, kota di Suriah yang menjadi benteng terakhir ISIS.
Seorang ibu berjalan sambil membawa tas koper dan diikuti dua anaknya ketika meninggalkan Baghouz, kota di Suriah yang menjadi benteng terakhir ISIS. (AFP via Daily Mail)

Tak hanya Yusuf, nasib serupa juga harus dijalani oleh anak WNI eks ISIS lainnya yang bernama Faruq.

Faruq mengaku kehilangan orangtuanya ketika ia berada di desa terakhir yang dikuasai oleh ISIS diserang oleh koalisi anti-ISIS.

Serangan roket dari koalisi anti-ISIS membuat Faruq tak pernah melihat orangtuanya lagi.

"Terjadi serangan roket. Saya tak tahu [apa yang harus saya lakukan]. Saya berlari ... dan setelah itu saya tak pernah melihat lagi keluarga saya," kata Faruk.

Selain Yusuf dan Faruq, adapula kisah Nasa, anak WNI eks ISIS lainnya yang kini hidup tanpa arah di kamp Al-Hol di Suriah.

"Pesawat menjatuhkan bom ... orang-orang hilang, lalu saya menemukan Faruk," kata Nasa.

Nasa bahkan menyaksikan bagaimana desa Baghuz dibom oleh koalisi anti-ISIS.

Halaman sebelumnya
Tags
Warga Negara Indonesia
ISIS
WNI
Presiden Jokowi
Suriah
Berita Terkait :#ISIS
Editor: heri prihartono
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved