Detik-detik Gugurnya Kopassus Suparlan, Cabut Pin Granat saat Pemberontak Mendekat Meledakkan Diri
Dalam hitungan detik, dicabutnya pin granat. Lalu ia melompat ke arah kerumunan Fretilin di depannya seraya berteriak, “Allahu Akbar”…
Setelah puluhan musuh makin dekat mengepungnya, dengan sisa tenaga, anggota Kopassus ini susupkan tangan ke kantong celana. Dalam hitungan detik, dicabutnya pin granat. Lalu ia melompat ke arah kerumunan Fretilin di depannya seraya berteriak, “Allahu Akbar”….
TRIBUNJAMBI.COM - Pada 1987, terjadi pertempuran tak imbang antara ratusan Fretilin di posisi ketinggian, dengan pasukan TNI di posisi pinggir jurang.
Cerita Pratu Suparlan anggota Kopassus yang gugur melindungi rekan-rekannya di medan perang menjadi satu diantara kisah heroik yang menggetarkan hati.
Pratu Suparlan merupakan seorang tentara Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang mengorbankan nyawanya demi negara.
• Nyali Besar Intel Kopassus, Meski Ditampar Rekan Sendiri hingga Kuat Bertahan Diserbu Peluru Teman
• Dar Der Dor Situasi Semakin Buruk, Peluru Sniper Musuh Incar Kepala Paskhas Marinir dan Kopassus
• Dari 17 Peti Mati yang Disediakan Akhirnya Terisi 5, Misi Rahasia Kopassus di Thailand
Kisah heroik ini terjadi di medang perang wilayah Timor-timur atau sekarang bernama Timor Leste.
Seperti dilansir Tribunjambi.com dari laman kopassus.mil.id, kisah ini sangat menyayat hati.
Timor-Timur pada 9 Januari 1983, saat satu unit gabungan tentara Nanggala-LII Kopassandha pimpinan Letnan Poniman Dasuki, tengah berpatroli di KV 34 – 34/Komplek Liasidi.
Ini merupakan suatu daerah sangat rawan di pedalaman.
Maklum, daerah tersebut merupakan tempatnya para pentolan pemberontak Fretilin yang tak sungkan menghabisi anggota TNI.
Tiba-tiba, sepasukan kecil TNI ini diadang 300-an Fretilin (sayap militer terlatih Timor-Timur), lengkap bersenjata senapan serbu, mortar dan GLM.
Terjadi pertempuran tak imbang antara ratusan Fretilin di posisi ketinggian, dengan TNI di posisi pinggir jurang.
Satu per satu anggota pasukan kecil TNI gugur dimangsa peluru Fretilin.
Menyadari hal ini, komandan tim segera memerintahkan pasukan untuk meloloskan diri ke satu-satunya peluang, yakni ke celah bukit.
Namun hanya sedikit waktu yang tersisa bagi pasukan kecil ini.
Pratu Suparlan menyatakan pada komandannya untuk terus maju, sementara ia sendiri memilih untuk mengadang musuh.