Waspada 6 Virus Baru Muncul Dari Kelelawar Buah, Ahli Sarankan Hindari Hewan Ini!
Hingga kini belum ditemukan penangkal dari virus corona, yang pertama kali menyebar di Wuhan China tersebut.
TRIBUNJAMBI.COM - Viral virus corona yang telah menyebabkan ratusan jiwa tewas jadi sorotan dunia!
Hingga kini belum ditemukan penangkal dari virus corona, yang pertama kali menyebar di Wuhan China tersebut.
Meski demikian sejumlah ahli telah menemukan asal muasal virus corona hingga sebarannya.
• Empat Kasus DBD Ditemukan di Kerinci, Dinas Kesehatan Akan Lakukan Pemusnahan Masal Jentik Nyamuk
Ahli Patologi, Fakultas Kedokteran Institut Pertanian Bogor, Agus Setiyono menilai virus corona berpeluang menyebar di wilayah Indonesia melalui kelelawar pemakan buah.
Kesimpulan tersebut berdasarkan hasil penelitian Agus bersama Research Center for Zoonosis Control (RCZC), Hokkaido University, Jepang tentang kelelawar buah.
Dalam penelitian tersebut ditemukan enam jenis virus baru pada kelelawar buah.
• Virus Corona Belum Selesai, Virus Flu Burung Serang China, 4500 Ayam Dikaporkan Mati
Enam virus tersebut adalah coronavirus, bufavirus, polyomavirus, alphaperpesivirus, paramyxovirus dan gammaherpesvirus.
Dalam tayangan yang diunggah di kanal YouTube TVOneNews, Minggu (2/2/2020), Agus menjelaskan mengenai penelitian yang telah ia lakukan.
• VIDEO: Melihat Lebih Dekat Sejarah Islam Jambi di Museum Gentala Arasy
"Nah itu ada enam jenis virus baru yang kita dapatkan baik itu virus RNA maupun virus DNA," ujar Agus.
Agus menegaskan, bahwa virus corona yang ia temukan pada kelelawar berada di wilayah Paguyaman, Gorontalo.
Oleh karenanya, Agus mengimbau masyarakat untuk menghindari interaksi dengan kelelawar buah.
Dalam interaksi ini, ada dua pengertian, yakni kontak langsung dan tidak langsung.
"Kontak langsung seperti yang kita lihat di beberapa tempat di masyarakat, misalnya dia menyukai atau menyayangi hewan kelelawar menjadi hewan kesayangan, ini akan kemudian dipegang."
"Kemudian juga ada masyarakat yang katakan mengonsumsi sebagai makanan lokal."
"Nah itu langsung kontak, ini yang akan berisiko karena di dalam kelelawar kita tidak tahu," ujar Agus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/30042018_kelelawar_20180430_001055.jpg)