Kasus DBD di Batanghari Masih Tinggi, Ancaman Merata di 8 Kecamatan

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Batanghari masih cukup tinggi. Tahun ini, Dinas Kesehatan mencatat hingga 105 kasus.

Kasus DBD di Batanghari Masih Tinggi, Ancaman Merata di 8 Kecamatan
Istimewa
Ilustrasi nyamuk 

Kasus DBD di Batanghari Masih Tinggi, Ancaman Merata di 8 Kecamatan

TRIBUNJAMBI.COM, MUARABULIAN - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Batanghari masih cukup tinggi. Tahun ini, Dinas Kesehatan mencatat hingga 105 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batanghari, dr Elfie Yennie saat dikonfirmasi menyebut, dari 105 kasus tersebut tersebar rata di delapan kecamatan di Kabupaten Batanghari.

Dari delapan kecamatan, terbanyak di Kecamatan Muara Bulian dengan 48 kasus, Muara Tembesi 10 kasus, Mersam 22 kasus, Bathin XXIV 8 kasus, Pemayung 4 kasus, Bajubang 10 kasus, Maro Sebo Ilir 3 kasus, dan Maro Sebo Ulu 1 kasus.

"Datang yang tercatat ini dari Januari hingga 11 Desember lalu," ujarnya, Jumat (13/12).

Menurutnya, dibanding tahun lalu masih lebih tinggi dengan angka mencapai 159 kasus yang tersebar di delapan kecamatan yang ada di Kabupaten Batanghari.

Ini Alasan Polres Muarojambi Tidak Tahan Azwar Muda Meski Telah Jadi Tersangka

Resmikan Mapolres Tanjab Barat, Kapolda: Ini Mapolres Termegah di Jambi

Pulihkan DAS Batanghari, CitraRaya City Tanam 400 Pohon di Ruang Terbuka Hijau

Rumah Sakit di Tanjabtim Mulai Dibanjiri Pasien DBD, Belasan Anak-anak

"Namun sampai saat ini belum ada yang meninggal akibat DBD. Jangan sampai ada," katanya.

Lebih lanjut Elfie menyebutkan, faktor cuaca sangat mempengaruhi berkembang pesatnya populasi nyamuk penular DBD, yaitu Aedes aegypti.

"Kebersihan lingkungan juga menjadi faktor yang mempengaruhi perkembangbiakan nyamuk DBD. Keadaan cuaca yang terkadang hujan, terkadang panas bisa menyebabkan genangan yang jadi tempat tumbuhnya jentik nyamuk," ujarnya.

Sejauh ini, pihaknya selalu memotivasi masyarakat untuk pncegahan dan penanggulangan DBD dengan meminta mereka melakukan pemberantasan sarang nyamuk dan jentik nyamuk.

"Cara ini lebih efektif ketimbang fogging. Kami punya program gerakan satu rumah satu jumantik (juru pemantau jentik). Hasilnya, sudah semakin banyak rumah yang bebas jentik," kata Elfie.

Menurutnya, masyarakat masih banyak yang belum mengerti. Pasalnya, masyarakat masih banyak yang meminta fogging dimana-mana.

"Padahal itu hanya membunuh nyamuk dewasa. Fogging juga bisa membahayakan lingkungan. Cara paling efektif adalah pemberantasan sarang nyamuk dan jentik nyamuk," katanya.

Saat ini sudah masuk musim hujan, kata Elfie. Diharapakan pihak kecamatan dan kelurahan bisa aktif mengajak warga untuk bergotongroyong membersikan lingkungan.

"Selain itu dengan cara 3M. Yaitu menguras, membersihkan tempat-tempat penampungan air, menyingkirkan sampah dan barang-barang bekas yang bisa jadi tempat perindukan nyamuk. Lalu, penutup tempat-tempat penampungan air, plus memelihara ikan dan tanaman yang tidak disukai nyamuk," pungkasnya. (*)

Penulis: Rian Aidilfi Afriandi
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved