Banyak Sawah Jadi Kebun Sawit, Usaha Penggilingan Gabah di Tanjab Timur Terancam Bangkrut

Banyak petani yang beralih tanam dan keterbatasan lahan, ditengarai menjadi penyebab sepinya masyarakat yang melakukan penggilingan padi (gabah).

Banyak Sawah Jadi Kebun Sawit, Usaha Penggilingan Gabah di Tanjab Timur Terancam Bangkrut
Tribunjambi/Abdullah Usman
Penggilingan padi di Tanjab Timur terancam gulung tikar. 

Banyak Sawah Jadi Kebun Sawit, Usaha Penggilingan Gabah di Tanjab Timur Terancam Bangkrut 

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Banyak petani yang beralih tanam dan keterbatasan lahan, ditengarai menjadi penyebab sepinya masyarakat yang melakukan penggilingan padi (gabah).  

Tidak dipungkiri, sejak tahun 2000an kiblat masyarakat Tanjung Jabung Timur dari sektor bercocok tanam mulai berubah, dulunya masyarakat mengandalkan padi sebagai sumber penghasilan kini berubah drastis.

Ditambah yang dulunya masih banyak dijumpai hutan dan semak belukar, yang sejatinya merupakan lahan empuk bagi masyarakat untuk dibuka dan dijadikan lahan pertanian kini tidak lagi dijumpai.

Dikatakan Ambok Intang, bukan tanpa sebab industri penggilingan padi semakin sepi dan melemah. Dimana usaha tersebut sangat bergantung pada padi yang dihasilkan para petani setempat.

"Kalau petani dak lagi nanam padi macam mana bisa kita bertahan, sekarang petani yang nanam padi jumlah besar itu sudah sulit," ujarnya.

Usaha Penggilingan Padi Terancam Gulung Tikar, Banyak Petani Tanjabtim Tinggalkan Sawah

MTQ ke-49, ASN dan Honorer Pemkab Bungo Diminta Kenakan Pakaian Muslim

Kejari Muarojambi Akan Kembali Panggil Pejabat Dinsos Muarojambi, Soal Jamkesda

"Banyak petani yang beralih tanaman sawit dan perkebunan lainnya. Bahkan permasalahan utamanya lahan yang bisa digarap petani itu tidak ada lagi," bebernya.

Sementara itu A Yani, warga Muara Sabak Timur menuturkan, para petani beralih tidak lagi bercocok tanam tersebut bukan tanpa alasan dan bukan karena kemauan mainkan karena keadaan.

"Dulu saat jaya jayanya petani, dimanapun ada lahan kosong yang siap digarap para petani mau membukanya untuk bercocok tanam meskipun harus berjalan menembus semak belukar. Kalau sekarang bukan tidak mau tempatnya sudah tidak ada lagi," ujarnya.

Dikatakannya pula, kalau untuk di Sabak Timur sendiri khususnya Muara Sabak pada tahun 2010-2012 masih ada para petani yang menanam padi. Meski jumlah kecil dan seadanya masih ada.

"Itu pun harus tumpangsari dengan tanaman pinang yang baru ditanam. Hasilnya juga lebih dari cukup dan harus berbagi dengan hama," ujarnya.

"Kita bersyukur di wilayah lain masih ada petani yang bertahan hingga saat ini, dan itu perlu dukungan dari pemerintah," pungkasnya. (usn)

Penulis: Abdullah Usman
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved