Bengawan Solo Surut, Pengangkatan 3 Perahu Zaman Kolonial Belanda Dari Dasar Sungai Dimulai
Masih ingat dengan temuan tiga perahu yang diduga sebagai peninggalan zaman kolonial Belanda yang ditemukan warga Desa Mertani, Kecamatan Karanggeneng
Pihak Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur menyarankan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lamongan segera mengangkat tiga perahu yang diduga kuat peninggalan zaman kolonial Belanda.
Perahu tersebut ditemukan di dasar aliran Sungai Bengawan Solo. Sebelumnya, warga di Desa Mertani, Kecamatan Karanggeneng, Lamongan, Jawa Timur, menemukan tiga perahu karam di dasar Bengawan Solo, dengan sebagian besar badan perahu tertutup lumpur.
“Kemarin memang kami menyarankan agar diusahakan segera diangkat (dari dasar Bengawan Solo) sebelum musim hujan tiba,” ujar arkeolog dari BPCB Jawa Timur, Wicaksono Dwi Nugroho, saat dihubungi wartawan, Sabtu (12/10/2019).
• LOWONGAN CPNS Untuk Lulusan SMA/SMK/MA, Kemenkumham Siapkan 3.532 Formasi, Ini Dokumen Persyaratan
• Dosen Universitas Indonesia Dilaporkan Anggota DPD RI, Unggah Meme Wajah Anies Baswedan Mirip joker
• Klasemen Liga 1 2019 Pekan 26, Kalteng Putra Zona Degradasi, Persib Bandung Melesat Naik Posisi
Wicaksono bersama tim dari BPCB Jawa Timur dengan didampingi perwakilan Disbudpar Lamongan sudah meninjau lokasi penemuan tiga perahu itu pada Kamis (10/10/2019) lalu.
BPCB juga sudah memastikan bahwa ketiga perahu tersebut sebagai cagar budaya sehingga perlu dilestarikan.
“Sebab kalau tahun depan, belum tentu juga Bengawan Solo bakal mengalami surut parah seperti tahun ini,” ucap dia.
• Live Streaming MotoGP Malaysia 2019 dari Hari Ini 2 November 2019, Free Practice dan Kualifikasi
Disbudpar Lamongan memperkirakan, pengangkatan ketiga perahu berbahan baja dari dasar Bengawan Solo bakal membutuhkan bantuan alat berat (crane).
Selain karena sebagian badan perahu tertutup lumpur, juga untuk menjaga bentuk perahu dari kerusakan.
Perahu Diempas Ombak Malang, Satu Nelayan Meninggal
Kecelakaan laut, menimpa perahu nelayan KM Mojang Santolo Minggu (27/10/2019) pagi saat hendak berlabuh di pelabuhan Pantai Santolo.
Kapal terempas ombak dan terguling sekitar pukul 04.00 WIB.
"Ada dua awak kapal, satu orang ditemukan meninggal dunia atas nama Eli (55), dan satu orang hilang atas nama Ade Tohit (45)," jelas Kasatpolairud Polres Garut AKP Tri Andri saat dihubungi lewat telepon genggamnya, Minggu (27/10/2019).
Andri menyampaikan, kapal nelayan tersebut sebenarnya sudah hendak pulang setelah mencari ikan di laut.
Namun, saat akan memasuki Pantai Santolo, perahu korban diempas oleh ombak malang yang membuat perahu mereka terguling.
"Kena ombak malangnya di lepas Pantai Santolo, saat mau masuk pelabuhan," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/021119_penemuan-tiga-perahu.jpg)