Breaking News:

Daftar 5 Obat Ranitidin yang Ditarik BPOM, Obat Asam Lambung Terdeteksi Kandung Zat Picu Kanker

Update terbaru, BPOM mengeluarkan perintah penarikan pada beberapa obat yang mengandung ranitidin karena berpotensi memicu kanker.

Editor: Edmundus Duanto AS
BPOM
Ilustrasi: Daftar 5 Obat Ranitidin yang Ditarik BPOM, Obat Asam Lambung Terdeteksi Kandung Zat Picu Kanker 

TRIBUNJAMBI.COM - Berikut ini daftar 5 obat Ranitidin yang ditarik oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM)

Update terbaru, BPOM mengeluarkan perintah penarikan pada beberapa obat yang mengandung ranitidin karena berpotensi memicu kanker.

Produk obat yang ditarik BPOM dengan perintah penarikan maupun penarikan sukarela.

ILUSTRASI OBAT - BPOM Tarik Peredaran Obat Lambung Ranitidin karena Berpotensi Memicu Kanker
ILUSTRASI OBAT - BPOM Tarik Peredaran Obat Lambung Ranitidin karena Berpotensi Memicu Kanker (Freepik)

Baca Juga

 6 Makanan yang Bisa Bantu Redakan Migrain atau Sakit Kepala Tak Tertahankan!

 Istri Biarkan Pria Lain Masuk ke Rumah dan Selama 3 Jam saat Suami Kerja, Ngaku Lakukan Hal Ini

 Harga Motor Bekas Dibawah 10 Jutaan Tahun Muda - Honda, Yamaha, Suzuki

 26 Klub Sepak Bola di Kota Jambi Bakal Bertarung Bulan Depan, Piala Askot 2019

 Posisi yang Diperoleh Sandiaga Uno Bila Masuk Kabinet Jokowi, Mengapa Hanya Dapat Jabatan Ini

 Sandiaga Uno dan Fadli Zon Jadi Menteri Jokowi? Partai Gerindra Dikabarkan Minta Jatah 3 Menteri

Dikutip dari situs resmi situs resmi pom.go.id, berikut penjelasan BPOM terkait ditariknya beberapa produk obat lambung ranitidin:

1. Ranitidin adalah obat yang digunakan untuk pengobatan gejala penyakit tukak lambung dan tukak usus.

2. Badan POM telah memberikan persetujuan terhadap ranitidin sejak tahun 1989 melalui kajian evaluasi keamanan, khasiat, dan mutu.

Ranitidin tersedia dalam bentuk sediaan tablet, sirup, dan injeksi.

3. Pada tanggal 13 September 2019, US FDA dan EMA mengeluarkan peringatan tentang adanya temuan cemaran NDMA dalam jumlah yang relatif kecil pada sampel produk yang mengandung bahan aktif ranitidin, dimana NDMA merupakan turunan zat Nitrosamin yang dapat terbentuk secara alami.

4. Studi global memutuskan nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan adalah 96 ng/hari (acceptable daily intake), bersifat karsinogenik jika dikonsumsi di atas ambang batas secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama.

Hal ini dijadikan dasar oleh Badan POM dalam mengawal keamanan obat yang beredar di Indonesia.

5. Dalam rangka kehati-hatian, Badan POM telah menerbitkan Informasi Awal untuk Tenaga Profesional Kesehatan pada tanggal 17 September 2019 terkait Keamanan Produk Ranitidin yang terkontaminasi NDMA.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved