Waspadai Banjir dan Longsor,  BPBD Muarojambi Gelar Bimtek Pengendalian Karhutla

Pemerintah Kabupaten Muarojambi melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) melaksanakan bimbingan teknis

Waspadai Banjir dan Longsor,  BPBD Muarojambi Gelar Bimtek Pengendalian Karhutla
tribunjambi/samsul bahri
Pemerintah Kabupaten Muarojambi melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) kembali melaksanakan bimbingan teknis dan pengendalian terhadap bencana alam dalam hal ini kebakaran hutan dan lahan. 

TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI - Pemerintah Kabupaten Muarojambi melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) melaksanakan bimbingan teknis dan pengendalian terhadap bencana alam dalam hal ini kebakaran hutan dan lahan. Kegiatan dibuka Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Muarojambi, M Fadhil Arief.

Kepala BPBD Kabupaten Muarojambi, M Zakir menyebutkan, Bimtek ini terkait dengan bencana yang kemungkinan terjadi yang tidak hanya mengenai Karhutla, namun bencana-bencana alam yang meskipun tidak di inginkan, namun berkemungkinan terjadi.

"Bimtek ini tidak hanya fokus pada Karhutla, tetapi kita juga fokus pada bencana alam lainnya, seperti banjir dan tanah longsor. Apalagi nanti akan ada musim hujan, nantinya melalui bimtek ini kita lakukan upaya-upaya baik pencegahan dan penangulanggan terjadinya bencana alam," terangnya.

Disebutkan, sampai saat ini di Kabupaten Muarojambi masih terjadi kebakaran lahan yang berdampak pada kabut asap di beberapa wilayah. Ia menambahkan bahwa kondisi saat ini bisa jadi pembelajaran untuk ke depannya.

"Peran masyarakat dan komitmen masyarakat ini yang perlu disatukan sehingga langkah untuk pencegahan karhutla ini bisa ini bisa dilakukan bersama-sama," ujar Fadhil Arief di Hotel Shang Ratu Kota Jambi.

Acara ini hadiri oleh Kepala BPBD Kabupaten Muarojambi, M Zakir, Kasatpol PP A Gani, Camat Mestong dan Camat Sungai Gelam, serta perwakilan dari desa-desa yang ada di Kabupaten Muarojambi.

Sekda menceritakan, dampak dari kebakaran hutan yang terjadi pada 2015 lalu signifikan pada hasil pertanian bidang kepala sawit.

"Kerugian materiil bisa hitung, tapi kerugian kesehatan tidak bisa dihitung karena ini berdampak pada kesehatan seseorang, dan itu bisa dampak jangka pendek atau panjang," sebutnya.

"Sementara untuk perkebunan kelapa sawit itu membuat hasil produksi turun drastis. Untuk sebagian orang yang punya uang banyak itu bisa lakukan replanting, tapi kalau masyarakat biasa itu tidak mungkin," sambungnya.

Sekda juga menyebutkan, untuk wilayah Kecamatan Sungai Gelam di harapkan untuk dapat membuat gerakan menanam pohon kembali. Hal ini lantaran sudah sangat minim daerah resapan air, sehingga dikhawatirkan terjadi banjir.

"Sungai Gelam ini kita lihat resapan airnya sangat sedikit. Kita minta untuk buat gerakan di masyarakat, gerakan untuk menanam kembali wilayah yang gersang, kita takutkan nanti banjir," ucapnya.

Dengan dampak-dampak yang di alami tersebut di tahun 2015 dan kini kembali lagi di tahun 2019 ini, diharapkan dengan adanya Bimtek dan pengendalian terhadap bencana alam di harapkan dapat memberikan ilmu yang di dapatkan selama bimtek kepada keluarga dan masyarakat setempat.

"Jadi kita harapkan ilmu yang didapatkan selama bimtek ini bisa di sampaikan kepada keluarga atau masyarakat banyak, kalau semua sudah paham pencegahan dan penanggulangan ini, kedepannya semua sudah punya satu misi yang sama," harapnya.

Penulis: samsul
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved