Raut Tegang Prada DP saat Sidang Vonis, Kepala Pembunuh Vera Oktaria Tak Lagi Plontos

Prada Deri Pramana (Prada DP) menjalani sidang dengan agenda putusan hakim atas perkara pembunuhan terhadap Vera Oktaria, kekasihnya sendiri, Kamis (2

Editor: Duanto AS
Kolase Istimewa
Vera Oktaria sebelum meninggal dunia dan Prada DP 

Bahkan pengunjung sidang juga terlihat lebih ramai dari biasanya.

Pantauan di lapangan, Prada DP hadir di Pengadilan Militer I-04 Jakabaring Palembang sekitar pukul 09.10 WIB.

Dengan penjagaan ketat, Prada DP terus saja berjalan menunduk saat digiring masuk ke gedung pengadilan.

Rini, kakak perempuan Vera tak kuasa menahan tangis saat melihat Prada DP hadir di ruang sidang.

"Kesal sekali aku lihat orang itu,"kata Rini sembari menghapus air matanya.

Tribunsumsel.com akan melaporkan jalannya persidangan Prada DP.

Air mata Suhartini (50) masih sering menetes tiap kali mengingat kenangan bersama Vera Oktaria (20)

Vera merupakan anak kandungnya yang tewas karena menjadi korban pembunuhan oleh Prada Deri Pramana (Prada DP).

Curhat Tak Biasa Vera Oktaria Sebelum Dibakar, Takut Dicari Prada DP Sampai Pindah ke Bengkulu
Curhat Tak Biasa Vera Oktaria Sebelum Dibakar, Takut Dicari Prada DP Sampai Pindah ke Bengkulu (ist)

Apalagi tanggal 5 Oktober mendatang, Vera Oktaria berulang tahun yang ke 21 tahun.

"Biasanya kami suka jalan-jalan atau makan-makan di mall saat dia (Vera) ulang tahun"

"Kami pergi ramai-ramai, sama kakak perempuannya juga. Tapi sekarang sudah tidak lagi seperti itu, anak saya sudah tidak ada lagi (meninggal)," kata Suhartini sembari menghapus air matanya saat ditemui di rumahnya yang terletak di kediamannya di jalan KH A Azhari Plaju, Rabu (25/9/2019).

Diketahui, Vera Oktaria (20) ditemukan tewas mengenaskan dalam kondisi termutilasi di kamar Penginapan Sahabat Mulia di Jalan PT Hindoli RT 05 RW 03 Kelurahan Sungai Lilin Kecamatan Sungai Lilin Muba, Jumat (10/5/2019) lalu.

Suhartini berucap, tidak ada orang tua yang sanggup untuk mengurus pemakaman anaknya sendiri.

"Kadang malam hari saya terbangun dari tidur. Teringat anak gadis, bungsu pula, sekarang sudah terbaring di tanah (dikubur). Sedih, kalau ingat itu. Saya cuma bisa diam dan nangis saat itu,"

Sebagai seorang ibu, Suhartini menegaskan, rasa sakit hati terhadap pembunuh anaknya tidak akan pernah sembuh sampai kapanpun.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Sumsel
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved