Minta Lahan yang Terbakar Tak Digarap,  Massa Juga Desak Izin Perusahaan Pembakar Lahan Dicabut

Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus Kamis (26/9) turun kejalan menggelar aksi unjukrasa

Minta Lahan yang Terbakar Tak Digarap,  Massa Juga Desak Izin Perusahaan Pembakar Lahan Dicabut
tribunjambi/Dedy Nurdin
Ratusan mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia berorasi di depan Kantor Gubernur Jambi, Rabu (25/9/2019). 

JAMBI, TRIBUN - Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus Kamis (26/9) turun kejalan menggelar aksi unjukrasa. Cipayung Plus merupakan gabungan massa dari oranisasi kemahasiswaan yakni PKC PMII Provinsi Jambi, Badko HMI Jambi, DPD IMM Jambi, PW KAMMI Jambi, GMKI Cabang Jambi dan GMNI Cabang Jambi.

Dalam aksinya, massa mahasiswa ini kembali mempertanyakan ketegasan sikap pemerintah dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan di Jambi.

Dalam orasinya mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan. Pertama, mendesak Pemerintah Provinsi Jambi dan kabupaten untuk segera menyalurkan bantuan kebutuhan logistik yang mendesak. Kedua, meminta kasus karhutla tidak dipolitisasi.

Ketiga, meminta pemerintah menfasilitasi terselenggarkanya audiensi Cipayung Plus dengan Kapolda, Dandrem, DPRD Provinsi Jambi dan perusahaan yang terlibat masalah karhutla, dan menyampaikan secara transparan dalam jangka waktu satu pekan terhitung dari Kamis kemarin.

Keempat, mereka mendesak Pemerintah Provinsi Jambi membuat rancangan jangaka panjang mengenai pencegahan penindakan dan pemanfaatan.
Keima, meminta Pemerintah Provinsi Jambi dan DPRD merekomendasikan kepada pemerintah pusat agar perusahaan yang terbukti melakukan pembakaran lahan dan hutan untuk dicabut izinnya.
Enam, mendesak pemerintah membuka seluruh data terkait dengan hutan yang terbakar dan pelaku pembakaran hutan. Tujuh, mendesak DPRD Provinsi Jambi membuat peraturan daerah terkait lahan yang terbakar untuk tidak dikelola selama empat tahun.

“Kita meminta masalah kebakaran hutan dan lahan ini ditanggapi secara serius oleh pemerintah dan aparat kepolisian, bukan hanya soal pemadamannya, tapi apa langkah yang dilakukan terhadap perusahaan yang kedapatan membakar lahan, harus ada sanksi tegas, harus dicabut izinnya, dan lahan yang terbakar harus dilarang, agar tidak dikelola,” kata Ketua PKC PMII Provinsi Jambi, Hengki Tornado.

Pengunjukrasa juga menyodorkan surat komitmen kepada Pemprov Jambi, agar menjalankan tuntutan mahasiswa. Surat itu ditandatangani oleh seluruh pimpinan OKP, Sekda Pemprov Jambi, M Diyanto dan pimpinan DPRD Provinsi Jambi. (dnu)

Kedatangan Ratusan Orang Pelajar

Di tengah unjukrasa yang dilakukan mahasiswa dari Cipayung Plus, ratusan orang dari pelajar tiba-tiba berdatangan ke lokasi aksi mahasiswa di pelataran Kantor Gubernur Jambi, Kamis (26/9).

Ratusan pelajar ini konvoi menggunakan sepeda motor dan langsung menuju pendopo Kantor Gubernur Jambi.
Tak lama kemudian massa pelajar ini berlari menuju kerumunan mahasiswa. Sejumlah massa aksi mahasiswa pun mencoba menenangkan massa pelajar ini.

Ratusan petugas pengamanan aksi dari kepolisian dan satpol PP pun dibuat diam dengan gelombang massa yang datang.

"Astaga kok banyak nian, ini kan pelajar, kayaknya terpengaruh aksi di Jakarta," kata seorang Polwan yang berdiri di depan pintu masuk kantor Gubernur Jambi.

Beruntung aksi dari para siswa ini bisa diredam oleh mahasiswa dan aparat kepolisian, sehingga mereka membubarkan diri dengan tertib. (dnu)

Editor: awang
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved