Sudah Dua Pekan Kepala Syahbandar Masih Hilang Misterius
Dua pekan berlalu Syahbandar Air Hitam Laut yang dikabarkan menghilang saat pergi memancing bersama rombongan.
Penulis: Abdullah Usman | Editor: Teguh Suprayitno
Sudah Dua Pekan Kepala Syahbandar Masih Hilang Misterius
TRIBUNJAMBI.COM, MUARA SABAK - Dua pekan berlalu Syahbandar Air Hitam Laut yang dikabarkan menghilang saat pergi memancing bersama rombongan, hingga Senin (16/9) belum juga ditemukan.
Sejak dikabarkan hilang pada Awal september lalu Kepala Syahbandar atas nama Pengan Taupani (53), warga RT 07 RW 04, Kecamatan Nipah Panjang tersebut, hingga saat ini belum dapat ditemukan.
Proses pencarian baik oleh masyarakat sekitar dan tim gabungan juga terus dilakukan. Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil, terhitung Dua pekan lebih Kepala Syahbandar masih hilang misterius.
Camat Sadu Frans saat dikonfirmasi Tribunjambi.com melalui sambungan ponsel selulernya, tidak dapat menuturkan banyak hal terkait perkembangan pencarian Kepala Syahbandar tersebut.
Baca: BREAKING NEWS, Musni Dibacok saat Sedang Duduk di Rumah Tetangga
Baca: 37 Pejabat Eselon II Ikut Asesmen, Pemprov Jambi Tunjuk Asesor dari Riau
Baca: Tuai Polemik, Ini Isi Pasal Dalam Draf RUU KPK yang Mengatur Soal Penyadapan
Baca: Dari Wartawan Hingga Jadi Juru Bicara Presiden Jokowi, Kini Johan Budi Pamit Mundur
Baca: Agus Rahardjo Serahkan Mandat KPK ke Presiden, Firli Bahuri Cs Diragukan Pimpin KPK, Kata Mahfud MD
"Hingga saat ini saya belum mendapatkan perkembangan terbaru terkait pencarian korban hilang tersebut. Dan terakhir masih dalam tahap pencarian oleh tim," ujarnya singkat.
Diberitakan sebelumnya, Kepala Syahbandar Desa Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), dikabarkan hilang dalam perjalanan saat pergi memancing ke Simpang Gajah Taman Nasional Berbak, sekitar pukul 13.00 WIB, Senin (2/9) lalu.
Namun Kepala Syahbandar atas nama Pengan Taupani (53), warga RT 07 RW 04, Kecamatan Nipah Panjang tersebut, hingga saat ini belum dapat ditemukan. Korban diketahui, pergi memancing bersama 7 temannya Upek, Ambok Mek, Imam, Supri, Dalik dan Mus.
Hal itu dibenarkan oleh salah seorang warga, Acok. Dari informasi yang didapatnya, sekira pukul 05.00 WIB Senin (2/9) pagi, korban beserta tujuh rekannya berangkat dari Kuala Air Hitam Laut menggunakan ketek menuju Simpang Gajah Taman Nasional Berbak dengan maksud ingin memancing ikan.
Namun sesampainya di tujuan, enam orang rekan korban naik ke daratan dan berjalan mencari tempat pemancingan. Sedangkan korban dan satu orang temannya tinggal di ketek karena air kering akibat kemarau.
"Kemudian korban dan rekannya menyusul enam temannya yang sebelumnya sudah duluan. Dalam perjalanan, posisi korban berjalan di bagian belakang," ujarnya.
Baca: Lowongan Kerja Bank Indonesia September 2019, Ini Perkiraan Gaji Pegawai BI yang Paling Rendah
Baca: Polemik KPK, Benarkah Pimpinan Tak Kompak? Basaria Panjaitan dan Putri Gus Dur Beri Komentar
Baca: Korban Kabut Asap Bayi 4 Bulan di Palembang, Kronologi Elsa Batuk Hingga Tak Bisa Nafas, Lalu Wafat
Baca: FAKTA Bayi Usia 4 Bulan Meninggal Karena Terpapar Kabut Asap, Ini Penjelasan Dokter
Namun saat tiba di lokasi tempat enam orang temannya memancing, teman korban baru sadar bahwa korban tidak ada di belakang. Karena korban tidak kunjung terlihat, semua teman korban memutuskan untuk mencari korban dengan menyusuri jalan pergi.
"Hingga Senin sore, korban juga tidak ditemukan. Kemudian dua orang turun kembali ke Kampung Air Hitam Laut untuk minta pertolongan," bebernya. (usn)