Meski Dikepung Kabut Asap, Nelayan di Kuala Tungkal Tetap Melaut

Meski kabut asap melanda, nelayan di Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat tetap melaut demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Meski Dikepung Kabut Asap, Nelayan di Kuala Tungkal Tetap Melaut
Tribunjambi/Darwin
Meski kabut asap melanda, nelayan di Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat tetap melaut. 

Meski Dikepung Kabut Asap, Nelayan di Kuala Tungkal Tetap Melaut

TRIBUNJAMBI.COM, KUALA TUNGKAL - Meski kabut asap melanda, nelayan di Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat tetap melaut demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Aktivitas para nelayan di Kuala Tungkal seakan tak pernah surut meskipun kabut asap melanda beberapa bulan terakhir. Sebab hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan kebutuhan anak sekolah.

Di Kampung Nelayan, di bibir pantai Sungai Pengabuan, Yusuf, Nelayan mengaku masih tetap melaut seperti biasanya. Sebab melaut merupakan satu-satunya mata pencaharian mereka (nelayan).

"Macam biasa, tetap melaut. Kalau tak ke laut mau makan apa anak istri. Paling kita nambah GPS," kata Yusuf kepada Tribunjambi.com, Senin (16/9/2019).

Baca: VIDEO: Viral Ular Piton Hangus Terbakar di Hutan Kalimantan, Mirip Hewan Mitologi

Baca: Warga Dusun Seberang Jaya Dikejar Polisi, Dugaan Kasus Pembunuhan di Bungo

Baca: Sudah Dua Pekan Kepala Syahbandar Masih Hilang Misterius

Baca: Korban Kabut Asap Bayi 4 Bulan di Palembang, Kronologi Elsa Batuk Hingga Tak Bisa Nafas, Lalu Wafat

Kendati tetap melaut, nelayan itu mengaku jika jarak pandang sudah sangat terbatas. Sehingga dengan jarak pandang di laut sekitar 10 meter mempengaruhi hasil tangkapan.

"Meskipun berkurang, tangkapan masih tetap ada," pungkasnya di tengah tengah aktivitas mempersiapkan jaring tangkapan udang.

Rudy, Nelayan lainnya mengungkapkan hal sama dengan Yusuf, bahwa mereka (nelayan) masih melaut di tengah kepungan kabut asap yang tebal.

"Walaupun kabut masih lumayan tebal kami masih melaut seperti biasa," ujarnya.

Untuk mengantisipasi kondisi langit di laut yang gelap, pihaknya bersama rekan menggunakan kompas.

"Kabut asap sangat mengganggu terutama terhadap pernapasan. Konsentrasi melaut cukup terganggu," ungkapnya.

Berbeda dengan Yusuf, Rudy mengaku kalau isi tangkapan melaut tidak terpengaruh. Hanya saja jarak tempuh terfokus pada kompas. Jarak tempuh mereka biasanya 45 - 1 jam. (Darwin Sijabat/ Tribunjambi.com)

Penulis: Darwin
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved