G30S 1965
G30S - Pengakuan Eko, Untung, Jawito, Sukatno: Dituduh PKI, Interogasi & Disiksa, Disilet & Spirtus
Eko Wardoyo mengisahkan kesaksiannya diinterogasi dan disiksa oleh tentara pasca terjadinya Gerakan 30 September 1965 / G30S.
Kendati diberondong tiga peluru dari senjata milik tentara, namun ia tetap hidup.
Tidak hanya diberondong peluru, Eko juga dihujam bambu
Mata kiri Eko buta karena tusukan bambu yang menurutnya dihujamkan oleh seorang anggota Zeni Tempur 8 dan Komando Distrik Militer Jatinegara
Penyiksaan kepada Eko dilakukan oleh militer karena ia dituduh sebagai Komandan Pos Koordinasi Barisan Tani Indonesia (BTI) Jakarta Selatan.
"Kedua tangan dan kaki saya diikat dengan tambang, lalu badan saya digebuki dari belakang," kata Eko.
"Seorang tentara menyiram spiritus, lalu menyileti perut saya hingga berdarah-darah."
Kisah Tahanan Politik (Tapol) Eko Wardoyo: Diberi Makan Nasi Berpasir di Penjara Cipinang
Dituturkan olehnya, bahwa kebanyakan tahanan adalah hasil Operasi Kalong di Jakarta dan Operasi Trisula di Blitar Selatan.
Selanjutnya, para tahanan politik ini menjalani hukuman tanpa proses pengadilan.
Hukuman yang mereka dapatkan adalah mendekam di balik penjara atau kamp inrehabilitasi di Jawa atau di luar Jawa.
Di tempat tersebut, para tahanan politik selalu disiksa dengan berbagai metode penyiksaan.
Kembali pada kisah Eko Wardoyo, setelah diperiksa di Kodim, dirinya dipindahkan ke penjara Cipinang.
Di penjara ini, Eko kembali mendapatkan penyiksaan.
Para petugas penjara hanya memberi makan dua kali sehari dengan menu tetap yaitu sayur bayam, nasi berpasir, dan sesekali jagung rebus.
"Jagungnya dipipil. Saya hitung jumlahnya 142 biji, pernah cuma 98 biji," kata Eko mengenang masa kelamnya.