Sosok
Sosok Cik Mia, Pengrajin Songket Ternama di Jambi, yang Mengawali Karir dengan Berjualan Pempek
Sosok Cik Mia, Pengrajin Songket Ternama di Jambi, yang Mengawali Karir dengan Berjualan Pempek
Penulis: Fitri Amalia | Editor: Deni Satria Budi
Sosok Cik Mia, Pengrajin Songket Ternama di Jambi, yang Mengawali Karir dengan Berjualan Pempek
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Awal pindah ke Kota Jambi pada tahun 1997, tidak terpikir olehnya akan menjadi pengusaha songket ternama.
Hanya niat untuk meringankan beban suami dan mencukupi kebutuhan keluarga yang terlintas saat Cik Mia, panggilan akrabnya, memulai usaha.
Helai demi helai benang yang ia tenun mengantarkannya menjadi pengerajin songket terkenal.
Baca: Wanita 68 Tahun di Betara, Tanjab Barat, Jambi, Masih Lihai Menyusun Benang tuk Jadi Kain Songket
Baca: Bandingkan Lagu Sahabat Kecil yang Dibawakan Tegar Septian dan Betrand Peto, Bagus yang Mana?
Baca: Ibu Kota Baru Dimumkan, Viral Iklan Apartemen Agung Podomoro di Kaltim, Ini Kata Pemasang iklan
Untuk mencukupi uang belanja sehari-hari dan membantu sang suami, ia mulai tergerak untuk berjualan pempek dan kerupuk panggang, panganan khas Sumatera Selatan.
"Awal-awal itu, jualan pempek di sekitar rumah, kalau kerupuk panggang dititipkan ke warung warung," sebut Mania, nama asli Cik Mia, mengawali cerita.
Sembari usaha kecil-kecilannya berjalan, ia juga berpikir untuk menenun songket agar bisa di jual.
Cik Mia sendiri keturunan pengerajin songket. Dari bibinyalah ia belajar tiap hari menenun kain khas Palembang ini. Setelah mengurus keluarga di siang hari, malam harinya ia baru bisa menenun.

"Saya kan bisa nenun kain kenapa tidak saya lanjutkan," ujarnya
Akhirnya dari uang berjualan pempek dan kerupuk dan modal dari meminjam, yang telah terkumpul ia jadikan modal untuk memulai usahanya yang hingga kini ia jalani. Dengan modal awal Rp 3 juta, ia memulai usahanya.
"itu pun juga pinjaman, akhirnya dari situ bikin alat tenun, kebetulan alat menenun saat masih gadis ada, jadi sebagian bikin di Jambi," tutur wanita berkulit putih ini.
Pertama kali ia menjual kain hasil tenunannya ke provinsi tetangga. Tetapi lama-lama ia berpikir untuk melebarkan pasarnya ke wilayah Jambi.
Baca: Iklan Agung Podomoro Jual Properti Rp 700 Juta Dekat Ibu Kota Baru Viral di FB dan Grup WA
Baca: Sudah 2 Hari Kebakaran Lahan di Danau Lamo, Muarojambi, Belum Padam, Berbatasan dengan PT WKS
Baca: Bukan Sosok Biasa, Pupung dan Anaknya Pendiri Komunitas Bumi Datar, 2 Korban Dibakar Dalam Mobil
"Jambi kan luas, masak tidak ada yang mau beli, dari rumah ke rumah, kantor-kantor, galeri-galeri semua ku masukin, sampai tahun 2000. Awalnya banyak yang nolak karena kualitas songket yang kita punya lebih bagus," kenangnya.
Setelah lama berkeliling akhirnya ia mendapat pelanggan pertamanya di Jambi. Ia berjanji tiga bulan akan menyelesaikan kain pesanan tersebut.
"Dia pesan satu set kain songket untuk suami istri, setelah selesai pesanannya pas ku antar, rupanya orang yang memesan kainnya telah meninggal. Langsung lemas, sedih songket gak jadi laku, tapi saya tidak patah semangat karena yakin pasti ada rejeki lagi," kenangnya.