Berita Tebo

Luas Habitat Menurun, Diduga Penyebab Konflik Manusia dan Gajah di Tebo, Ini Solusi yang Ditawarkan

Luas Habitat Menurun, Diduga Penyebab Konflik Manusia dan Gajah di Tebo, Ini Solusi yang Ditawarkan

Luas Habitat Menurun, Diduga Penyebab Konflik Manusia dan Gajah di Tebo, Ini Solusi yang Ditawarkan
Tribunjambi/Mareza
Luas Habitat Menurun, Diduga Penyebab Konflik Manusia dan Gajah di Tebo, Ini Solusi yang Ditawarkan 

Luas Habitat Menurun, Diduga Penyebab Konflik Manusia dan Gajah di Tebo, Ini Solusi yang Ditawarkan

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA TEBO - Mengingat pentingnya pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) koridor satwa liar, Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Pemerintah Kabupaten Tebo, BKSDA Jambi, dan Yayasan WWF Indonesia, menggelar workshop, Rabu (28/8/2019).

Acara yang berlangsung di Aula Melati Setda Tebo itu bertujuan dalam upaya mitigasi konflik manusia dan gajah di bentang alam Bukit Tigapuluh, Kabupaten Tebo.

Acara dibuka Bupati Tebo, Sukandar yang diwakili Asisten III Setda Tebo, Prayitno.

Baca: Gajah di Lanskap Bukit Tigapuluh Terdesak Pendatang, Butuh Peran Swasta Selamatkan Gajah Jambi

Baca: Jangan Sepelekan Kram yang Terjadi di Kaki, Hati-hati Tanda Penyakit Liver

Baca: VIRAL - Mualaf di Manado Tiba-tiba Meninggal Dunia Usai Lafazkan Kalimat Syahadat!

Baca: Nikita Mirzani Ngamuk ke Pengacara Senior, Elza Syarif di Acara Hotman Paris Show, Sampai Banting HP

Dia mengatakan, konflik manusia dan gajah disebabkan menurunnya luas area dan habitat alami satwa tersebut.

"Penurunan luas area dan habitat alami itu akibat aktivitas manusia, mulai dari penebangan, perburuan, hingga menyebabkan konflik dengan manusia," paparnya.

Untuk itu, kata dia, wilayah jelajah dan ketersediaan pangan dirasa sangat penting. Hal tersebut diharapkan dapat mengurangi konflik satwa liar dengan manusia.

Workshop pengelolaan KKE yang digelar di Tebo
Workshop pengelolaan KKE yang digelar di Tebo (Tribunjambi/Mareza)

Menurutnya, Alam Bukit Tigapuluh merupakan satu di antara habitat gajah terbesar.

"Ada 120 ekor gajah yang terdapat di habitat tersebut, terbagi dalam tujuh kelompok. Habitat itu terfragmemtasi dan terbagi-bagi dalam hutan konservasi, hutan lindung, hingga hutan produksi," jelasnya.

Dia mengatakan, perlu kerja sama yang baik antarpihak dalam menciptakan kawasan ekosistem esensial tersebut. Lebih lenjut, perlu adanya persamaan persepsi dan komitmen dalam pengelolaan ekosistem esensial itu.

"Itu penting, agar manusia dan gajah dapat hodup secara berdamlingan. Sehingga pembangunan dapat berjalan," tutupnya.

Luas Habitat Menurun, Diduga Penyebab Konflik Manusia dan Gajah di Tebo, Ini Solusi yang Ditawarkan (Mareza Sutan A J/Tribun Jambi)

Penulis: Mareza
Editor: budi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved