11 Kali Helikopter Water Bombing Bawa Air untuk Padamkan Api di Tahura Batanghari

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Thaha Syaifuddin (STS) Kabupaten Batanghari mencapai 50 hektare lebih.

11 Kali Helikopter Water Bombing Bawa Air untuk Padamkan Api di Tahura Batanghari
TRIBUNJAMBI/MUHAMMAD FERRY FADLY
Heli BPBD untuk Lakukan water bombing 

11 Kali Helikopter Water Bombing Bawa Air untuk Padamkan Api di Tahura Batanghari

TRIBUNJAMBI.COM, MUARABULIAN - Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Thaha Syaifuddin (STS) Kabupaten Batanghari mencapai 50 hektare lebih.

Ini berdasarkan data yang tercatat oleh Brigade Tahura STS Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batanghari.

Dari puluhan hektare di Tahura STS, pemadamannya harus dilakukan menggunakan helikopter water bombing karena lokasi yang tidak terjangkau oleh tim pemadam darat. Ini disampaikan oleh Kepala Brigade Tahura DLH Kabupaten Batanghari, Sandy.

"Wilayah Tahura yang terbakar tersebut lokasinya tidak terjangkau oleh tim pedaman darat. Selain itu juga demi keselamatan tim Satgas Karhutla kita tidak memaksakan diri. Karena dikhawatirkan akan menimbulkan korban jiwa," katanya saat dikonfirmasi, Selasa (27/8).

Dijelaskan Sandy, sudah dua kali Karhutla terjadi di kawasan Tahura dan harus menggunakan water bombing.

Baca: VIDEO: Jokowi Umumkan Ibu Kota Pindah ke Kaltim, Mardani: Prosedur yang Salah dan Harus Diperbaiki

Baca: 35 Orang Mengungsi Akibat Kebakaran di Tungkal, Wabub Amir Serahkan Bantuan Sembako

Baca: Kemeriahan Anak-anak di Mendalo Darat Muarojambi Rayakan HUT RI ke 74

Baca: Diguyur Hujan, Warga Tanjab Timur Berharap Kabut Asap Hilang

Baca: Cegah Kebakaran Lahan, Babinsa di Jajaran Kodim 0416/Bute Rutin Patroli Karhutla

Diantaranya pada 14 Agustus dan 22 Agustus 2019. Helikopter yang membawa water bombing harus medamkan api hingga 11 kali.

Kawasan Tahura yang terbakar tersebut terletak di KM 13 Desa Senami. Luas lahan yang terbakar di kawasan tahura tersebut diperkirakan akan bertambah, lantaran Senin (26/7) lalu kembali terjadi kebakaran hutan dan lahan di kawasan tersebut tepatnya di KM 14, Desa Senami.

"Kemungkinan luas lahan yang terbakar akan bertambah," kata Sandy.

Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan di kawasan tersebut disebabkan oleh ulah manusia.

Berdasarkan identifikasi Tim Satgas Karhutla di kawasan Tahura, kebakaran disebabkan oleh oknum yang membakar arang kayu di dalam kawasan Tahura dan dilakukan oleh oknum yang membuka lahan di dalam kawasan itu.

Namun, saat terjadi kebakaran para oknum yang melakukan aktivitas pembukaan lahan dan oknum yang membakar arang kayu sudah tidak berada di lokasi.

"Hanya terdapat sisa-sisa aktivitas para oknum tersebut," ujarnya.

Sandy mengimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan hutan lindung Tahura

"Kita mengimbau agar masyarakat tidak lagi melakukan aktivitas tersebut. Karena selain akan dikenakan pidana juga merusak lingkungan dan ekosistem yang ada di dalam kawasan Tahura," pungkasnya. (*)

Penulis: Rian Aidilfi Afriandi
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved