Dibangun Masa Belanda Diruntuhkan Masa Jepang, Cerita Sejarah Jembatan Sungai Batang Bungo
Melewati Jembatan Batang Bungo dan Batang Tebo.Anda akan melihat bangunan beton yang tenggelam, dan hanya menampakkan sedikit bagian ke permukaan.
Penulis: Mareza Sutan AJ | Editor: Teguh Suprayitno
Dibangun Masa Belanda Diruntuhkan Masa Jepang, Cerita Sejarah Jembatan Sungai Batang Bungo
TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BUNGO - Jika Anda melintasi Kabupaten Bungo, Anda akan melewati Jembatan Batang Bungo dan Batang Tebo. Dari sana, Anda akan melihat bangunan beton yang tenggelam, dan hanya menampakkan sedikit bagian ke permukaan.
Tribunjambi.com mencari tahu asal usul bangunan itu dengan mewawancarai beberapa masyarakat sekitar. Ramli, tetua masyarakat Kelurahan Tanjung Gedang, yang tinggal tepat di tepi Sungai Batang Bungo, menceritakan sejarah bangunan itu.
Dia mengatakan, bangunan itu sudah ada sejak dia dilahirkan. Menurut penuturan orang-orang tua Tanjung Gedang, bangunan itu dulu adalah jembatan. Dibangun sejak masa kolonial Belanda, jembatan itu menjadi saksi perjuangan masyarakat Bungo Tebo pada masanya.
Dia tak tahu pasti kapan jembatan itu dibangun. Tapi, sepengetahuannya, jembatan itu dirobohkan ketika Jepang mulai masuk ke Muara Bungo.
Baca: Bersiap untuk Pilgub Jambi 2020, AJB Unggulkan Keberagaman, SDM dan Religiusitas
Baca: 22 Atlet Dayung Kota Jambi Terbang ke Tiongkok, Bawa Misi Juara untuk Merah Putih
Baca: Lepas Penat, Sejenak Nikmati Keindahan Sore di Danau Sipin Kota Jambi
Baca: Pemprov Jambi Siapkan Rp 1 Miliar untuk Jalan Depan Telkom yang Lonsor, Target Dua Bulan Selesai
Baca: Jambi Juara Umum, Kejurnas Dayung di Danau Sipin Berlanjut ke Kelas Junior U 15
"Kalau kata orang-orang tua kami dulu, itu jembatan dirobohkan waktu Jepang masuk ke Muara Bungo. Sekitar tahun 1940-an," katanya, saat Tribunjambi.com jumpai di Masjid Jami Al-Munawwarah yang terletak tepat di tepi Sungai Batang Bungo.
Dari masjid itu, sisa bangunan jembatan yang dirobohkan itu terlihat. Dari sana juga tampak Jembatan Batang Bungo yang diresmikan sekitar tahun 1970-an.
Seingatnya, sekitar tahun 1980-an, sempat ditemukan alat peledak ketika anak-anak sedang mandi di sungai itu.
Dia bilang, dulu, kata orang-orang tua di Tanjung Gedang, Belanda berusaha melarikan diri ketika Jepang masuk ke Muara Bungo. Sebagian besar masyarakat Tanjung Gedang menyebar ke berbagai daerah.
"Belanda ini takut dengan Jepang. Supaya Jepang tidak masuk, dirobohkanlah jembatan di Sungai Batang Bungo ini dulu. Sama yang di Sungai Batang Tebo juga dirobohkan," kisahnya.
Perang berkecamuk saat itu. Hal itu, kata dia, ditandai dengan adanya bekas peluru di Masjid Jami Al-Munawarah yang selesai dibangun pada 1941.
Namun, cerita lain Tribunjambi.com peroleh dari tokoh masyarakat sekaligus pengamat sejarah Bungo Tebo, Husni Saleh Yasin.
Seingat pria yang berusia lebih 80 tahun ini, jembatan itu dirobohkan ketika Agresi Militer II, akhir 1948.
"Ada dua kali agresi militer. Yang pertama, Agresi Militer I tahun 1947. Yang kedua, tahun 1948 akhir, kalau tidak salah," katanya, saat Tribunjambi.com temui di kediamannya.
Indonesia telah merdeka saat itu. Namun, Belanda masih mencari celah untuk merebut kembali daerah yang pernah dikuasai.
Husni mengenang, jembatan itu juga pernah dilalui Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI-setingkat Presiden), Sjafruddin Prawiranegara yang menjabat sejak 19 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949.
Baca: IPR Sudah Pernah Dibuat, Ini Titik Awal Polemik PETI di Sarolangun
Baca: Tak Cukup Hanya Menyikat Gigi, Kenali Cara Merawat Gigi
Baca: VIDEO: Viral Detik-detik Polantas di Jawa Barat Ditabrak Mobil dan Diseret hingga 100 Meter
Baca: Mengekspresikan Diri Lewat Tarian
Baca: Selalu Tersenyum Meski Salah Gerak
Waktu itu, Presiden Soekarno hendak ditahan, kemudian menyerahkan mandat padanya dengan memindahkan pusat pemerintahan ke Bukittinggi, Sumatra Barat. Hal itu terjadi ketika Yogjakarta yang saat itu menjadi ibu kota pemerintahan, jatuh ke tangan Belanda pada 19 Desember 1948.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/27072019_jembatan-bungo.jpg)