Aktivitas PETI Menggila, 30 Persen Lubuk Larangan di Sarolangun Tercemar

Aktifitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di Sarolangun mulai mengancam lubuk larangan. Sekitar 30 persennya telah tercemar.

Penulis: Wahyu Herliyanto | Editor: Teguh Suprayitno
IST
Dinas Perikanan dan Peternakan Sarolangun mencatat sekitar 30 lubuk larangan di Sarolangun tercemar aktivitas PETI. 

Aktivitas PETI Menggila, 30 Persen Lubuk Larangan di Sarolangun Tercemar

TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN-Aktifitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di Sarolangun mulai mengancam lubuk larangan.

Dari data yang dihimpun Tribunjambi.com, ada 44 lubuk larangan yang tersebar di wilayah Kabupaten Sarolangun.

Puluhan lubuk larangan itu tersebar di Kecamatan Limun, Batang Asai, Sarolangun dan Bhatin VIII.

"Lokasinya di hulu sungai, itu sebagian sudah tercemar atas kegiatan PETI," kata Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan, Sarolangun, Asnawi, Selasa (23/7).

Tercemarnya lubuk larangan itu tidak hanya satu lokasi tetapi 30 persen dari total lubuk larangan di Sarolangun telah tercemar aktivitas PETI. "Ada yang sudah tercemar dan masih dijaga ada," ujarnya.

Katanya, aktivitas PETI lima tahun terakhir ini semakin brutal dan berpengaruh besar kepada masyarakat umum. "Parah lima tahun terakhir ini," katanya.

Baca: Di Tengah Kebakaran Hebat, Nia Mendadak Kontraksi Terpaksa Melahirkan di Atas Perahu Dibantu Dukun

Baca: 15 Rumah di Nipah Panjang Jambi Habis Terbakar, Api Diduga dari Bangsal Ikan Nelayan

Baca: 4 Desa di Kerinci Diterjang Banjir Bandang, Puluhan Rumah Terendam Air Setinggi Paha

Baca: 24 Jam Edi Dikabarkan Hilang Tenggelam, Basarnas dan Polairud Menyebar Lakukan Pencarian

Baca: Rumah dan Gudang Ikan Nelayan di Nipah Panjang Habis Terbakar, Damkar Kesulitan Padamkan Api

Hal ini diungkapkan karena air sungai yang semula jernih dan terawat kini menjadi keruh dan kotor sehingga tidak bisa lagi dimanfaatkan oleh masyarakat. "Keruh melihat ikan susah, ikan terganggu dan air keruh ikan berkurang," katanya.

Sementara, pihak Dinas Lingkungan Hidup Daerah (DLHD) Sarolangun mengakui jika keberadaan lubuk larangan hampir semua terancam PETI. Namun dari puluhan lubuk itu ada beberapa lubuk tidak terkena kegiatan peti.

Lokasi lubuk yang paling parah sampai saat ini ada di Lubuk Bedorong, Kecamatan Limun.

"Macam di Lubuk Bedorong air sudah terkontaminasi karena air keruh," kata Sohardi Sohan, Kabid pengawasan dan pengendalian lingkungan DLH Sarolangun.

Tercemarnya sungai itu dapat dilihat secara kasat mata di lapangan. Namun pihaknya belum memastikan jika sungai itu terdapat kandungan merkuri. "Belum bisa mendeteksi kalau ada merkuri," katanya.

Lanjutnya, bahwa memang secara individu, untuk menangani ini, petugas laboratorium DLH Sarolangun sangat mampu. Hanya saja pihaknya terkendala pada infrastruktur yang dimiliki.

"Di alat pendukung. Karena uji merkuri harga alat cukup mahal," ujarnya.

Dijelasknnya bahwa senyawa merkuri berperan penting untuk digunakan oleh para oknum penambang emas ilegal untuk mengikat emas secara terpisah.

Baca: Siswi SMP Diperkosa Pacar di Kebun Teh Kerinci, Celana Dalam Diambil Lalu Difoto Pas Lagi Bugil

Baca: Politik Cawagub, Dewan Minta Fachrori Bangun Komunikasi dengan Parpol Pengusung

Baca: Setujui Saran Pansel, Dewan Lempar Bola Panas ke Gubernur Jambi

Baca: Marak Kasus Rio di Bungo, Kajari: Sebagian Besar karena Sentimen

Baca: Banyak Masalah di Dusun, Kejari Bungo Bakal Gandeng PMD dan Inspektorat Lakukan Penyuluhan Hukum

"Pada saat pencuci, ngayak, dulang dan disaring lagi menggunakan merkuri, air yang dibuang mengandung merkuri ini lah yang berbahaya bagi kesehatan, maupun hewan endemik sungai," katanya.

Diakuinya, jika dilihat tercemarnya lubuk larangan hingga sungai yang ada, memang membutuhkan waktu cukup lama hingga 10 tahun untuk bisa memulihkan kembali kondisi air kembali.

Sumber: Tribun Jambi
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved