Siapa Sebenarnya Dolly? Kalau Jual 'Daging' Aku Pengalaman, Kalau Jadi Germo Aku Tidak Bisa

Dolly boleh tomboi, tapi itu tak menutupi kecantikannya. Dia biasa meladeni lelaki di Hotel Simpang atau LMS. Siapa sebenarnya Dolly?

Editor: Duanto AS
Dok. Majalah Jakarta-Jakarta
Dolly atau Advenso Dollyres Chavit dan keluarga 

Dari pernikahan itu lahirlah anak lelaki.

Tetapi belum lagi sang anak masuk ke umur lima tahun, Yakup sang suami meninggal dunia.

Dolly yang cantik pun mulai menghadapi krisis keuangan. Mana sang anak kerap merengek meminta ini-itu.

Semisal es krim, yang pada masa itu termasuk jajanan mahal.
Untuk membesarkan sang anak serta mencukupi kebutuhan sehari-hari Dolly butuh biaya.

Maka babak baru dalam kehidupannya pun bergulir.

Mungkin terdengar klise. Tetapi ia mengaku terpaksa saat memutuskan untuk melangkah ke dunia prostitusi pada awal 1950-an.

Kecantikan Dolly dan kefasihannya berbahasa Belanda membuat banyak laki-laki mencarinya.

Dolly dengan mudah menjadi idola, khususnya bagi para eksptariat yang baru turun dari kapal.

"Aku ini cantik. Tubuhku tinggi-ramping. Banyak lelaki tergila-gila," jelas Dolly.

Dolly biasa meladeni lelaki di Hotel Simpang atau LMS.

Dolly mengaku tidak pernah meminta bayaran uang kepada lelaki yang mengencaninya.

"Aku ini pelacur kelas atas. Aku enggak pernah mau dibayar," jelasnya.

Kompensasinya adalah: ia hanya mau menerima berbagai barang mahal. Dalam istilah Dolly, "Aku cuma menerima 'kado'."

Banyak lelaki ingin menikahi Dolly. Tetapi permintaan itu ditampiknya. Dolly memilih menjadi single parent.

Alasannya simpel.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved