Penelitian Temukan Manfaat Sebuah Basa-basi, Cocok Saat Berjumpa Dengan Kerabat di Momen Lebaran!

Saat berjumpa dengan kerabat yang tidak begitu dikenal ketika pulang kampung lebaran, sering kali kita tak terhindarkan dengan obrolan lebaran

Penelitian Temukan Manfaat Sebuah Basa-basi, Cocok Saat Berjumpa Dengan Kerabat di Momen Lebaran!
Ilustrasi 

TRIBUNJAMBI.COM - Saat berjumpa dengan kerabat yang tidak begitu dikenal ketika pulang kampung pada lebaran nanti, sering kali kita tak terhindarkan dengan obrolan sederhana.

Obrolan tersebut bisa memiliki topik ringan seperti bertanya kabar, domisili, hingga yang bersifat lebih personal, seperti kapan lulus kuliah, menikah, punya momongan, dan sebagainya.

Mungkin Anda sering bertanya, apakah obrolan seperti ini diperlukan? Apa obrolan ini hanya formalitas rutin yang perlu dilakukan oleh orang-orang yang tidak terlalu dekat? Apa manfaat dari hal ini? Ternyata, obrolan ringan memang harus kita lakukan, karena memiliki efek positif bagi kondisi emosional dan kemampuan sosial kita.

Ilustrasi
Ilustrasi (pixabay.com)

Berdasarkan studi yang dilakukan di jaringan kereta di Chicago, Amerika Serikat, mengobrol dan berbincang dengan orang asing justru membuat orang merasa senang dan meningkatkan produktivitas seseorang setelahnya.

Studi yang melibatkan sekitar 50 orang sukarelawan ini melaporkan bahwa orang yang menghabiskan waktunya berbincang dengan orang asing yang mereka tidak kenal sebelumnya, menyatakan bahwa perjalanan mereka lebih menyenangkan dibanding orang yang tidak berinteraksi sama sekali.

Setiap pagi orang-orang menaiki kereta, di mana berkumpul dengan banyak makhluk sosial di suatu tempat yang sama, namun mereka saling mengacuhkan satu sama lain. Hal ini tentu menarik bagi seorang psikolog, untuk mengamati fenomena aneh ini. Setidaknya hal ini mengusik Nicholas Epley, psikolog dari University of Chicago, yang memimpin studi tersebut. Lewat studinya, Epley dan koleganya mencoba mencari tahu penyebab ‘paradoks antisosial’ ini.

Ilustrasi
Ilustrasi (shutterstock)

Jawabannya adalah ‘pluralistic ignorance’, di mana semua orang sebenarnya ingin mengobrol, namun mereka beranggapan bahwa orang lain tidak mau diajak bicara. Artinya, bisa jadi semua orang di gerbong kereta tersebut ingin memulai percakapan, namun takut untuk memulai obrolan lebih dulu.

Selain dapat mengubah mood harian, obrolan seperti ini juga berperan dalam pembentukan dan penguatan ikatan sosial, terutama pada orang yang tidak begitu dekat namun sebenarnya sering kita jumpai. Meski demikian, obrolan ringan tidaklah mudah untuk dilakukan, terutama dalam pemilihan topik.

Beberapa orang benci membicarakan hal yang sifatnya sepele dan tidak informatif, seperti kondisi cuaca atau kejadian di berita. Di sisi lain, beberapa orang juga menghindari topik yang relatif lebih berat dan sensitif, seperti politik atau isu lingkungan. Lantas, bagaimana seharusnya kita bersikap dan topik apa yang kita pilih? "Saat anda bersikap baik duluan terhadap orang lain, mereka akan membalasnya dengan baik pula pada anda dan orang lainnya," ujar Bernardo Carducci, psikolog dari Indiana University.

Carducci menjeaskan beberapa hal yang dapat dilakukan dalam memulai dan melanjutkan pembicaraan dengan orang lain, terutama yang tidak kita kenal, di antaranya adalah menyapa dan memperkenalkan diri terlebih dahulu, dan bersikap ramah dan sopan, tanpa berusaha untuk terkesan lucu, pintar, apalagi merasa paling penting. Biarkan percakapan berlangsung alami, tanpa pretensi.

Halaman
12
Editor:
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved