Awal Mula Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, Ternyata Ini Sejarahnya
Hari ini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional ke-111. Berikut ini sejarah awal pada 20 Mei 1908.
Hari ini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional ke-111. Berikut ini sejarah awal pada 20 Mei 1908.
TRIBUNJAMBI.COM - Senin (20/5/2019) diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional atau sering disingkat Harkitnas yang jatuh pada 20 Mei, juga diperingati sebgai waktu berdirinya organisasi Boedi Oetomo.
Pertama kali, Hari Kebangkitan Nasional diperingati pada era pemerintahan Presiden Soekarno di Yogyakarta pada 1948.
Pada saat peringatan Hari Kebangkitan Nasional pertama itu kepanitiaannya diketuai oleh Ki Hajar Dewantara.
Baca Juga
Kebiasaan Buruk Ammar Zoni Terbongkar, Irish Bella Mulai Keluhkan Kebiasaanya Tiap Pagi Saat Ramadan
Setan Gundul Mengolok-olok Ani Yudhoyono, Ferdinand Hutahaean Cabut Dukungan ke Prabowo-Sandiaga
Bocah Asal Tangerang Bikin Huru-hara di Facebook, Sekarang Diburu Netizen Internasional
Nonton Game of Thrones Season 8 Episode Terakhir pada Senin (20/5) Pukul 08.00 WIB, Ini Caranya
Ini Wajah Oknum Pilot yang Ditangkap Polisi karena Ujaran Kebencian, Ini Isi Pesan Rusuh IR
Dalam pidatonya, Presiden Soerkarno mengimbau pada seluruh rakyat Indonesia yang terpecah oleh kepentingan politik agar bersatu untuk melawan Belanda.
Soekarno juga menyampaikan bahwa Boedi Oetomo merupakan tonggak pergerakan nasional.
Latar Belakang
Pada 20 Mei 1908, Boedi Oetomo didirikan oleh sejumlah mahasiswa School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA), yaitu Soetomo, Mohammad Soelaiman, Gondo Soewarno, Goenawan Mangoenkoesoemo, R Angka Prodjosoedirdjo, Mochammad Saleh, R Mas Goembrek, Soeradji Tirtonegoro, dan Soewarno.
STOVIA adalah sekolah khusus pendidikan dokter pribumi di Batavia pada masa penjajahan Belanda.
Gagasan Soetomo mendirikan organisasi ini terinspirasi dari dokter Wahidin Sudirohusodo yang ingin meningkatkan martabat rakyat dan bangsa.
Latar belakang berdirinya Boedi Oetomo bertopang pada kesadaran para mahasiswa akan masa depan Indonesia yang bergantung di tangan mereka.
Organisasi ini pada awalnya hanya bersifat sosial, ekonomi, dan budaya.
Tidak ada unsur politik di dalamnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/ki-hajar-dewantoro-bertemu-dengan-presiden-sukarno-pada-desember-1956-di-ugm-yogyakarta_20160502_203427.jpg)