Kisah Militer
80 Paskhas sudah Genggam Granat, 'Siap Mati' saat Pangkoopsau II Ditodong Senjata
80 Paskhas sudah Genggam Granat, 'Siap Mati' saat Pangkoopsau II Ditodong Senjata
Saat itu, warga Timor-Timur yang memilih untuk tetap bergabung dengan NKRI, berbondong-bondong meninggalkan Timor Timur.
Mereka pergi dengan tergesa-gesa karena dibayang-bayangi konflik bersenjata yang bisa meletus sewaktu-waktu, sebagaimana dilansir tribunjambi.com dari intisari online.
Pascareferendum, satuan-satuan pasukan RI yang semula bermarkas di Tim-Tim juga bergegas meninggalkan negara baru itu, sambil membawa perlengkapan tempur.
Mereka bergerak keluar Tim-Tim dalam konvoi serta formasi militer siap tempur.
Tapi, ketegangan justru makin memuncak sewaktu pasukan multinasional The Internal Force of East Timor (Interfet), yang dipimpin pasukan khusus Australia, mulai mendarat demi melancarkan operasi stabilitas keamanan di sana.
Senjata terkokang
Pasukan Interfet mendarat pertama kali menggunakan pesawat C-130 Hercules milik Angkatan Udara Australia pada 20 September 1999.
Pendaratan pasukan itu membuat suasana pagi kota Dilli yang semula tenang, langsung berubah tegang.
Ratusan pasukan Interfet yang keluar dari badan pesawat, alih-alih berbaris rapi, lalu melaksanakan upacara dan briefing dan berkoordinasi dengan pasukan TNI (Paskhas) yang sedang mengamankan Bandara Komoro. Mereka langsung stelling (siap tempur).
Diiringi sirine yang meraung-raung, personel pasukan Interfet keluar dari pesawat dalam kondisi siap menembaki dan berlarian ke berbagai arah untuk membentuk perimeter (pertahanan) pengamanan Bandara Komoro.
Sepak terjang pasukan Interfet yang siap tempur dalam kondisi senjata terkokang dan siap menembak, itu jelas membuat para prajurit Paskhas yang sedang bertugas mengoperasikan dan mengendalikan bandara jengah.
Sebagai pasukan komando terlatih dan memiliki kemampuan khusus mengoperasikan bandara, Paskhas memang ditugaskan mengamankan bandara setelah para operator sipil Bandara Komoro dievakuasi ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Paskhas sekaligus menjadi pasukan paling terakhir yang meninggalkan Dili.
Untuk mengantisipasi kondisi terburuk, Paskhas yang berjumlah sekira 80 orang dan masing-masing menyandang senjata di pundak, itu diam-diam juga telah menyiapkan diri bertempur sampai titik darah terakhir melawan pasukan Interfet.

Saat itu, pasukan Gurkha yang merupakan pasukan elite Inggris dan memiliki sejumlah kemampuan komando seperti Paskhas juga mulai diturunkan. Pasukan itu juga dalam kondisi siap tempur.
Ternyata dikepung