Kisah Pak Harto Pernah Jadi Pegawai Bank Desa: Ketiban Apes Sarungnya Nyangkut di Jari-jari Sepeda

TRIBUNJAMBI.COM- Punya keluarga yang carut-marut, biasanya bikin orang jadi frustrasi.

Editor: ridwan
Facebook
Soeharto 

Seragam kerjanya: blangkon, beskap, dan sarung.

Baca: SERANGAN Kilat Kopassus Bikin Separatis Papua Klenger: Tak Sempat Kokang Senapan, Begini Jadinya

Gara-gara seragam kerjanya inilah Soeharto ketiban apes! Ceritanya, sarung yang dipakenya tiap hari udah lusuh.

Terus, ia dipinjami oleh buliknya sarung kesayangannya. Eh, sarung sarung itu ternyata enggak sengaja nyangkut di jari-jari sepeda yang sedang ia tunggangi.

Dus, peristiwa tadi mengakhiri kariernya sebagai juru tulis bank desa.

Menganggur, Soeharto mencoba peruntungan ke Solo.

Baca: Tabligh Akbar di Deliserdang Sepi, Maruf Amin Dikabarkan Batal Datang

Sebab, seorang teman menginformasi bahwa Angkatan Laut Belanda sedang mencari juru masak.

Tapi, ternyata begitu sampai di Solo lowongan yang dimaksud enggak ada.

Dengan kecewa, Soeharto kembali ke Wuryantoro. Dia bekerja serabutan (dari ikut membangun langgar sampai membersihkan selokan air), supaya bisa menyambung hidup.

Enggak lama Soeharto mendengar informasi lowongan kerja lagi! Kali ini lowongan bergabung dengan Angkatan Perang Belanda (KNIL).

Baca: Fans Terkesan Adegan Suga di Run BTS Episode 66, Bikin ARMY Lupa Kalau Dia Miliuner Kaya

Daripada enggak ada pekerjaan tetap, tanggal 1 Juni 1940 Soeharto mantap mendaftar sebagai prajurit.

Soeharto mendapat pelatihan kemiliteran yang superkeras. Tiap hari dari Subuh sampai larut malam, dia enggak henti-hentinya digembleng fisik dan mental.

Toh, Soeharto enggak merasa tertekan. Kehidupan masa kecilnya yang serba enggak pasti justru membuatnya kepincut dengan disiplin keras dan keteraturan yang diajarkan di sana.

Makanya, Soeharto sukses lulus sebagai kadet terbaik di angkatannya!

Baca: Hubungan Memanas dengan Pakistan, Jet Tempur India Ini Jatuh Karena Menabrak Burung, Bukan Ditembak

Selesai pelatihan, Soeharto dikirim ke Batalyon XIII di Rampal, Malang.

Pada 2 Desember 1940 dia diberi gelar kopral. Kemudian dia dikirim ke Gombong buat menjalani latihan lanjutan. Dan, begitu lulus dinaikkan pangkatnya jadi sersan.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved