Pabrik Tentara Bayaran Ini Ciptakan Pasukan Berani Mati: Bisa Order Pesawat Tempur Plus Pilot
TRIBUNJAMBI.COM - Di Amerika Serikat banyak berdiri perusahaan penyedia tentara bayaran
Khusus untuk urusan udara DynCorp memiliki armada helikopter tempur UH-IH Iroquois, Bell 212 Huey dan T-65 Thrush serta sejumlah jet tempur. Setiap pengiriman pesawat selalu dilengkapi dengan pilot dan para teknisinya.
Baca: Ani Yudhoyono Jalani Terapi Injection & Obat Untuk Bunuh Sel Kanker, Ada yang Bikin AHY Terharu
Pada awalnya DynCorp berdiri tahun 1946 sebagai solusi atas berjibunnya para veteran perang dan masih melimpahnya persenjataan yang menganggur pasca PD II.
Presiden AS kala itu Harry S Truman mendukung sepenuhnya keberadaan DynCorp karena mampu menampuang ribuan tenaga kerja.
Dalam perkembangannya DynCorp turut berperan besar di kancah penelitian penjelajahan ruang angkasa luar, program pembuatan rudal dan perawatan pesawat tempur AS.
Di luar AS, DynCorp cenderung menangani negara yang sedang konflik dan negara yang menjadi sumber produksi narkotika.
Baca: Video Insiden Kecelakaan 21 Mobil Pembalap NASCAR Daytona 500
Saat bertugas di negara yang sedang berperang, DynCorp, sesuai kontrak penyewa, tak hanya mengirim personel berupa orang yang jago bertempur tapi juga menyertakan pesawat tempurnya.
Biasanya tenaga DynCorp diperlukan untuk melatih tentara regular, pilot, perang antigerilya dan menjadi tulang punggung bagi operasi rahasia AS di berbagai negara.
Dari cara kerja yang penuh risiko dan butuh teknologi mutakhir itu, bayaran yang harus diberikan oleh penyewa kepada DynCorp memang sangat tinggi.
Penghasilan terbesar DynCorp diperoleh dari lembaga yang selama ini setia menjadi pelanggannya, Pentagon dan lembaga-lembaga lain yang kebanyakan justru berstatus sipil.
Baca: Aksi Teror Kain Api Misterius di Semarang Resahkan Warga, Kapolda: Dilakukan Orang Terlatih
Dalam setahun DynCorp mendapat bayaran sekitar Rp20 triliun dari Pentagon dan lebih Rp50 trilun dari lembaga sipil.
Seperti digembar-gemborkan oleh CEO DynCorp, Paul Lombardi melalui website Washington Technology, sebagai contoh sukses, pada tahun 2001 saja, penghasilan DynCorp mencapai Rp 26 triliun.
Total tenaga kerja DynCorp berjumlah 20.000 personel yang berasal dari berbagai negara dan tersebar di 550 lokasi, dalam dan luar AS. Namun tak semua tugas yang dijalankan oleh tenaga kerja DynCorp lancar dan mereka juga harus siap bertaruh nyawa.
Baca: Suami Bunuh Istri dan Anak yang Berusia 7 Bulan, Sempat Cekcok hingga Kronologis Penusukan
Sejumlah profesional DynCorp telah tewas di Kolombia ketika pesawat militer yang mereka tumpangi bersama para polisi antinarkotika berhasil ditembak jatuh oleh gerilyawan.
Di Peru personel DynCorp diyakini turut tewas saat pesawat misionaris yang dicurigai sebagai pesawat penyelundup narkotika ditembak jatuh oleh pesawat AU Peru.
DynCorp menyangkal semua kejadian itu dan itu merupakan hal mudah karena personel DynCorp sengaja tidak dibekali identitas saat menjalankan tugas rahasianya.
Hingga kini para personel DynCorp terus bertugas di berbagai negara terutama di negara-negara yang sedang dilanda konflik seperti di kawasan Timur Tengah.