Keok Lawan Tentara Mujahidin Dibeking Amerika, Pasukan Soviet Mundur: Ini Kisah Perang Dingin Itu
TRIBUNJAMBI.COM--Kerumunan penonton yang terpana, pada 15 Februari 1989, menyaksikan bagaimana
Kondisinya cukup sulit. Kendaraan dari Kabul yang mengarah ke perbatasan harus melewati Salang Pass yang memiliki ketinggian 3.600 meter.
Apalagi, saat itu Afghanistan sedang diserang musim dingin ekstrem.
Situasi bertambah parah mengingat kelompok mujahidin tidak pernah berhenti melawan Soviet, membuat para tentara kelelahan dan sekarat sampai akhir.
Tak ada perayaan
Di Kabul, tidak ada publisitas atau upacara spesial yang menandai kepergian tentara Soviet.
Baca: Misteri Orang Bunian, Bertubuh Pendek Diisukan Suka Menculik Wanita: Siapa Sosok Kontroversial Ini?
Ketika mereka akhirnya melintasi perbatasan Hairatan dan Jembatan Persahabatan pada 11.30 waktu setempat, barulah kemenangan Afghanistan dirayakan.
"Namun, ketika melihat perang saudara dan pertempuran hebat yang terjadi setelahnya, kami jadi berharap agar Tentara Merah tetap di Kabul saja," kata Mohammad Salih, pedagang lokal yang kini berusia 76 tahun.
Ya, meskipun Soviet sudah pergi, tapi Perang Saudara antara pemerintah Afghanistan dan kelompok mujahidin masih berlangsung.
Baca: Ratusan Orang Warga Seleman Padati Pengadilan Negeri Sungai Penuh, Kasus Pembakaran Rumah
Tiga tahun kemudian, saat Soviet mengalami krisis dan tidak bisa lagi memberi dukungan kepada kubu pemerintah, presiden Mohammed Najibullah mengundurkan diri, menandai berakhirnya komunisme di negara tersebut.
Pemerintahannya digantikan oleh salah satu faksi mujahidin.
Dan kini, Afghanistan lebih retak dari sebelumnya.
Baca: Penasihat Hukum Meriyah dan Jaksa Saling Bantah di Depan Hakim, Kasus Anggaran PAUD
Perang baru yang lebih kejam akan segera pecah sebelum Taliban Islam merebut kekuasaan pada tahun 1996. (Gita Laras Widyaningrum)
(Artikel ini sudah tayang di nationalgeographic.grid.id dengan judul "Lelah Berperang, Ini Detik-detik Soviet Mundur dari Afghanistan 30 Tahun Lalu")