Cabai Tak Ada Harganya, Petani Kulonprogo Buang, Bongkar dan Hancurkan Ladangnya

Seorang petani di Desa Bugel, Kulon Progo, Sukarman menunjukkan ladang cabai keriting seluas 1,5 hektare

Editor: Nani Rachmaini
pixabay.com
Ilustrasi 

Petani di Kulonprogo Bongkar dan Buang Tanaman Cabainya, Ladangnya Dihancurkan dengan Racun

TRIBUNJAMBI.COM - Seorang petani cabai di Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kulon Progo, Sukarman (60), memutuskan untuk tidak melakukan panen.

Hal tersebut dipilih lantaran harga cabai keriting terjun bebas dari normalnya Rp 15.000 per kilogram menjadi Rp 3.000-4.000 per kg di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Seorang petani di Desa Bugel, Kulon Progo, Sukarman menunjukkan ladang cabai keriting seluas 1,5 hektare yang sudah menjadi coklat akibat disemprot penghancur gulma.

Sukarman beralasan, petani rugi karena harga cabai jeblok.

Mereka mempertimbangkan untuk mengganti dengan tanaman lain.

Baca: Kalah di Octagon One Pride MMA, Alwin Kincai Tetap jadi Kebanggaan Masyarakat Kerinci

Baca: Baju-baju Kesayangan Nissa Sabyan Laku Puluhan Juta Rupiah, PM Pakistan Ternyata Gandrung Suaranya

Baca: Muncul Parody Unboxing Motor NMAX ala Adi Saputra, Kocak. Motornya Bukan Scoopy

http://asset-a.grid.id/crop/0x0:0x0/700x0/photo/2019/02/10/2619527619.jpg
Seorang petani di Desa Bugel, Kulon Progo, Sukarman menunjukkan ladang cabai keriting seluas 1,5 hektare yang sudah menjadi coklat akibat disemprot penghancur gulma.

Sukarman beralasan, petani rugi karena harga cabai jeblok. Mereka mempertimbangkan untuk mengganti dengan tanaman lain.

Sukarman memutuskan untuk tidak memanen cabai karena ongkos petik lebih mahal ketimbang harga jual.

Bahkan, dia menghancurkan ladang miliknya seluas 1,5 hektare yang cabainya sudah merah dengan gramason, racun pembunuh rumput dan gulma.

"Saya baru 5 kali petik dari biasanya bisa sampai 15-20 kali petik."

"Tapi sekarang rugi karena harga Rp 3.000-4.000 per kg," kata Sukarman, ketika ditemui di Bugel 2, Sabtu (9/2/2019).

Ia membiarkan buah cabai itu mengering sendiri di pohon dan dipenuhi semak belukar. Ladang itu pun kini menjadi berwarna cokelat karena pohon mengering.

Sukarman mengatakan, mau tak mau ia memutuskan untuk mengganti dengan tanaman lain, misal semangka.

"Karena cabai ini sudah tidak ada untungnya," kata Sukarman.

Sukarman merasa keputusan ini tepat, terlebih setelah memperoleh kabar bahwa rendahnya harga cabai selama ini dikait-kaitkan dengan impor cabai kering, cabai tumbuk, dan saos cabai yang diyakini untuk mendukung industri produk makanan lain.

Baca: Pertamina Turunkan Harga BBM Terhitung Mulai Hari Ini, Berikut Rincian Harganya

Baca: Pemilih Mellenial Posisi Teratas, KPU Gandeng Relawan Demokrasi, Targetkan 77,5 Persen Partisipasi

Baca: Viral Video Siswa SMP di Gresik Bentak-bentak dan Tantang Duel Gurunya

"Kami baru tahu setelah saya hadir di pertemuan perwakilan kelompok tani seluruh Indonesia di kantor Dirjen Holtikultura Jakarta pada 4 Januari 2019."

"Kami mendesak dan baru tahu ada impor cabai ini yang baru 40 persen, belum seluruhnya," kata Sukarman.

Karenanya, ia meyakini harga cabai tidak akan terdongkrak naik dalam tempo lama.

Padahal, kata Sukarman, BEP lombok merah keriting di tingkat petani di Kulon Progo berada di harga Rp 10.000 per kg.

Petani lain di Bugel, Suparman (55), juga merasakan hal serupa. Ia mengatakan, kalau dihitung sejak pertama kali menanam, sebenarnya tidak rugi besar.

Namun, kini ia berencana mengganti cabai dengan tanaman lain. Kebetulan harga sudah lama di titik terendah.

"Harga sekarang Rp 5.000 per kg itu tidak cucuk (jauh dari BEP). Setidaknya Rp 15.000. (Karenanya) habis ini saya mau bongkar dan ganti tanaman lain," kata Suparman.

Kulon Progo sejatinya digadang sebagai salah satu lumbung cabai nasional. Produksi cabai keritingnya bisa mencapai 40 ton perhari.

Baca: Viral Video Siswa SMP di Gresik Bentak-bentak dan Tantang Duel Gurunya

Baca: Danjen Kopassus Kaget Bukan Main Panglima TNI yang Sedang Marah Banting Baret Merah Dihadapannya

Baca: Jokowi Sempat Remehkan Usaha Dua Anaknya, Kini Usaha Markobar dan Sang Pisang Berkembang Pesat

Sebanyak 90 persen produksi cabai dari kabupaten ini memenuhi kebutuhan cabai berbagai daerah di Indonesia.

Utamanya, Provinsi DKI Jakarta, seperti Pasar Kramat Jati, Cibitung, dan Tanah Tinggi.

Cabai juga dikirim ke Sumatera.

Produksi cabai Kulon Progo meningkat tajam di 2018 lalu, bahkan sampai 25.362 ton atau 225,82 persen dari target 11.231 ton.

Produksi cabai Kulon Progo merupakan produksi terbesar dari semua jenis holtikultura yang ada.

Semua didukung oleh luas tanam yang besar mencapai 2.240 hektare.

Luas tanam ini melebihi masing-masing kabupaten yang ada di DIY. (Kompas.com/Dani Julius Zebua)

TONTON VIDEO: Viral Marc Marquez Jadi Rebutan Emak-emak di Bandung, Sampai Nangis

IKUTI INSTAGRAM KAMI: TER-UPDATE TENTANG JAMBI

ARTIKEL TELAH TAYANG DI GRIDHOT DENGAN JUDUL DUH! PETANI CABAI...

Baca: Pertamina Turunkan Harga BBM Terhitung Mulai Hari Ini, Berikut Rincian Harganya

Baca: 40 Ucapan Selamat Hari Valentine 2019, Cocok Jadi Status di Medsos, Persembahan Untuk yang Terkasih

Baca: Diam-diam Putri Ustaz Yusuf Mansyur Koleksi Tas Mewah, Dua Ini Harganya Puluhan Juta

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved