RSUD Kuala Tungkal Tangani 49 Pasien DBD, 1 Anak Meninggal. Dinkes Akui Belum Punya Data

"Dari total 49 pasien, 32 pasien pulang sehat yang terdiri dari 27 pasien anak-anak dan 5 pasien dewasa," ungkapnya, ditemui wartawan diruang kerjanya

RSUD Kuala Tungkal Tangani 49 Pasien DBD, 1 Anak Meninggal. Dinkes Akui Belum Punya Data
tribunjambi/darwin
Pelayanan di RSUD KH Daud Arif Kuala Tungkal 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Darwin Sijabat

TRIBUNJAMBI.COM, KUALA TUNGKAL - Awal tahun 2019 ini, ada puluhan warga terserang DBD di Tanjab Barat. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) KH Daud Arif, Kuala Tungkal, pada Januari 2019 diketahui ada 49 pasien demam berdarah dengue (DBD) yang dirawat inap. Bahkan, satu orang anak, dikabarkan meninggal dunia aibat penyakit .

Seperti dijelaskan Direktur RSUD KH Daud Arif Kualatungkal, dr. Elfri Syahril melalui Kepala Bidang Pelayanan Rumah Sakit, Hartati, A.Mk, dari total data tersebut 32 diantaranya berhasil disembuhkan, hanya saja ada satu korban yang tidak tertolong.

Baca: Bukan Fogging, Ternyata Ini Cara Lebih Efektif untuk Basmi DBD

Baca: Berada di Daerah Perairan, Masyarakat Tanjung Jabung Timur Rawan DBD, Rantau Rasau Paling Tinggi

Baca: Sudah Terpotong, Alat Vital Bocah SD Asal Solo Disebut Disunat Jin, Ini Penjelasan Keluarga

"Dari total 49 pasien, 32 pasien pulang sehat yang terdiri dari 27 pasien anak-anak dan 5 pasien dewasa," ungkapnya, ditemui wartawan diruang kerjanya, Rabu (6/2/2019).

Selain itu kata Hartati, empat pasien dinyatakan Dengue Shock Syndrome (DSS) atau dalam kondisi parah, bahkan satu pasien tidak tertolong.

"Empat Pasien DSS, satu meninggal dunia, dan satu lagi dirujuk ke Jambi, semuanya anak-anak. Selebihnya satu pasien yang juga anak-anak dinyatakan Dengue dan pulang dengan sehat," jelas Hartati A.Mk.

Berdasarkan data tersebut, diketahui anak-anak lebih dominan terserang wabah DBD di Kabupaten Tanjabbar dibandingkan dengan orang dewasa.

"Salah satu faktor penyebab mungkin dari daya tahan tubuh tentu anak-anak lebih lemah dibandingkan orang dewasa," ujarnya.

Sampai saat ini, Hartati mengatakan masih ada pasien DBD yang masih dirawat di RSUD KH Daud Arif Kualatungkal atau belum di rekap. Diakui Hartaty, kasus DBD yang di tangani RSUD di awal 2019 ini meningkat dari bulan-bulan sebelumnya.

"Saat ini atau minggu pertama Februari masih ada pasien yang belum pulang atau masih perawatan. Sehingga laporan belum masuk. Sepertinya penderita DBD lebih meningkat dari sebelumnya," lanjutnya.

Untuk pencegahan, disebutkan Hartati, Dinas Kesehatan lebih berwewenang, karena menurutnya rumah sakit hanya fasilitas perawatan atau pelayanan.

Baca: KPU Bungo Akomodir Pemilih yang Menggunakan Suket, Tapi Syaratnya Suket Harus dari Instansi Ini

Baca: Taruna ATKP Makassar Tewas Setelah Dipukuli Senior, Ayahnya Tak Menduga Itu Pelukan Terakhir

Baca: Surat Habib Bahar Beredar di Media Sosial Isinya Tentang Perjuangan, Begini Kondisinya di Penjara

"Saya rasa itu lebih tepat komfirmasi ke Dinkes. Kalau kita dirumah sakit juga ada program kesehatan dengan melakukan sosialisasi pencegahan seminggu sekali sesuai musim. Seperti contohnya minggu ini lagi musim DBD maka perawat bersosialisasi dengan pasien ataupun warga terkait cara pencegahan DBD, begitupun penuakit lainnya," terangnya.

Terpisah, Kabid P2P Dinas Kesehatan Tanjabbar, dr Johanes saat dimintai data secara keseluruhan kasus DBD di Tanjabbar per awal tahun 2019 ini memilih bungkam.

"Kasus DBD yang mana lagi, kemaren kan data per Januari 2019 sudah kita sampaikan ke media, baik media TV, cetak, dan online kan sudah semua. Nah ini media mana lagi yang belum," tegas Johanes ke beberapa wartawan yang ingin konfirmasi diruangannya, Rabu (6/2/2019).

Baca: 337 SMAN 1 Kuala Tungkal, Siap Ikuti UNBK. Kekurangan Komputer, Bisa Pinjam dengan Orangtua Siswa

Baca: Surat Habib Bahar bin Smith dari Balik Penjara Viral di Medsos, Penjara Seperti Surga dan Neraka

Baca: Semua Siswa di Kota Jambi, Bisa Ikut UNBK, Dinas Pendidikan Tunggu 800 Unit Komputer

Baca: Aktor Leonardo DiCaprio Hampir Jadi Korban Khabib Nurmagomedov saat Bertarung di UFC 229

Bahkan, Johanes meminta wartawan untuk memberitahu terlebih dahulu sebelum datang ke ruangannya.

"Seharusnya kabari saya dulu sehari atau dua hari sebelum ke sini. Jadi, bisa kami siapkan datanya. Kita di Dinkes ini laporan masuk per satu minggu sekali," sebutnya.

Lebih lanjut, dirinya meminta wartawan untuk menanyakan data kasus DBD tersebut ke kepala seksinya, Dian, yang juga tidak bisa memberi data yang falid. Sehingga meminta wartawan untuk memberi waktu sehari atau dua hari untuk menyiapkan datanya. (*)

Penulis: Darwin
Editor: budi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved