Ifan Seventeen Jatuh Sakit, Disebut yang Paling Besar Mengalami Kehilangan, Begini Kondisinya

Riedhan mengatakan bahwa adiknya terpukul dan mengalami penurunan kesehatan. Kondisinya masih

Editor: Nani Rachmaini
Kompas.com/ Andi Muttya Keteng
Ifan Seventeen 

"Kondisi Ifan masih terpukullah, masih belum bisa sendiri, masih harus ditemenin karena gimana pun juga Ifan yang ngerasa kehilangannya yang paling besar," ujar Idan saat Grid.ID temui di tahlilan 7 hari kepergian personel Seventen dan Dylan Sahara di kawasan Kompleks DPR-RI, Kalibata, Jakarta Timur, Sabtu (30/12/2018).

Dari kejadian tersebut, menurut Idan, sapaan akrab Riedhan, Ifan alami trauma pada psikisnya.

"Saya pikir efeknya ke psikis sendiri jadi reaksi di badannya itu traumanya bermacam-macam," cerita Idan.

Dan hingga saat ini Idan mendapatkan kabar, lantaran Ifan Seventeen terus memikirkan kejadian tersebut, kondisi tubuh Ifan jadi menurun.

"Terakhir dia telepon lagi demam karena ternyata pikiran ngaruh ke badan. Sedih ya sedih, tapi badannya nggak tahan kalo untuk trauma," ucapnya.

Kendati begitu menurut Idan saat ini berusaha keras untuk menghilangkan trauma healing-nya sang kakak dengan tidak meninggalkan Ifan sendiri dan harus mengajak Ifan berinteraksi.

"Paling dia nggak boleh sendiri karena dia nggak kuat untuk sendiri, dia harus ada yang nemenin harus ada yang ajak ngobrol, harus ada yang ajak ketawa," tukasnya.

Ternyata, menurut berbagai penelitian, trauma memang memiliki efek yang berbahaya bagi kesehatan tubuh, terlebih trauma mendalam.

Melansir dari Psych Central, mengalami trauma dapat memiliki efek dramatis pada tubuh dan pikiran seseorang.

Meskipun sudah banyak waktu yang dilalui semenjak merasa trauma, tetapi tetap saja ketika pikiran seseorang dibawa pada kenangan tersebut, maka akan memengaruhi kesehatan seseorang.

Saat mengalami trauma itulah tubuh merasakan adanya ancaman. Kemudian tubuh mengaktifkan respons stres.

Respons stres itu akan terjadi di tubuh dan otak, sehingga kesehatan di dua tempat tersebut bisa saja terancam.

Respons tubuh terhadap stres akut merupakan persiapan untuk keadaan darurat.

Di tempat tersebut, adrenalin dan hormon lain bisa dilepaskan.

Kemudian tubuh akan mematikan proses yang kaitannya dengan perawatan jangka panjang.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved