Tsunami Banten dan Lampung

Tsunami Banten & Lampung, Penjelasan Ustaz Abdul Somad dan UAH, Ini Termasuk Pertanda Kiamat

Adanya Tsunami Banten dan Tsunami Lampung bagian pertanda kekuasaan Allah. Penjelasan Ustadz Abdul Somad dan Ustaz Adi Hidayat

Editor: Nani Rachmaini
kolase instagram/vid
UAH | UAS 

Penjelasan Ustadz Adi Hidayat terkait gempa dan tsunami itu ada dalam video yang diunggah channel youtube Semut Hitam pada 16 Oktober 2018.

Baca: Aa Jimmy & Istri Dimakamkan Berdampingan, Bayinya Tak Henti Menangis, Ada Ibu Beri ASI Baru Tenang

Baca: Setelah Bebas Ahok Bakalan Lebih Kaya, Kok Bisa? Ini 5 Sumbernya, No 5 Malah Gara-gara Dipenjara

Baca: Kesaksian Seorang Belanda Ungkap Fakta Mengerikan Dahsyatnya Letusan Krakatau, 21.574 Bom Atom

Baca: Kesaksian Sulis dari Lampung Saat Tsunami Menerjang, Dihantam Air, Terbenam, Ia Tengah Hamil 6 Bulan

Video itu berjudul : GEMPA BUMI DAN TSUNAMI DALAM AL-QURAN - Ustadz Adi Hidayat Lc.,MA.

Bagaimana penjelasannya terkait gempa dan tsunami berdasarkan Alquran, simak video lengkapnya :

168 Meninggal Dunia

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, korban meninggal dunia akibat tsunami yang melanda wilayah pantai sekitar Selat Sunda bertambah menjadi 168 orang.

Sementara itu, korban luka-luka menjadi 745 orang. Kemudian, korban yang belum ditemukan 30 orang.

"Sampai dengan hari ini Minggu (23/12/2018) pukul 13.00 WIB tercatat 168 orang meninggal dunia, 745 orang luka-luka, 30 orang hilang," kata Sutopo dalam keterangan persnya, Minggu sore.

Tidak hanya itu, sebanyak 556 rumah, 9 hotel, 60 warung dan 350 kapal atau perahu mengalami kerusakan.

"Puluhan kendaraan baik roda empat dan dua mengalami kerusakan. Data ini kemungkinan masih terus bertambah mengingat belum semua daerah terdampak baik di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang dan Kabupaten Lampung Selatan semuanya terdata," kata dia.

Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa gelombang yang menerjang sejumlah wilayah di kawasan sekitar Selat Sunda itu merupakan tsunami.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono memaparkan ada dua peristiwa yang memicu gelombang tsunami di sekitar Selat Sunda.

Kedua peristiwa itu adalah, aktivitas erupsi anak gunung Krakatau dan gelombang tinggi akibat faktor cuaca di perairan Selat Sunda.

Rahmat memaparkan, jika dipicu erupsi anak Gunung Krakatau, maka gelombang tsunami sekitar 90 sentimeter.

Namun, dengan adanya gelombang tinggi akibat faktor cuaca, arus gelombang tsunami bisa bertambah lebih dari dua meter.

"Karena digabung, menimbulkan tinggi tsunami yang signifikan dan menimbulkan korban dan kerusakan yang luar biasa," kata Rahmat dalam konferensi pers di gedung BMKG, Jakarta, Minggu.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved