Bukan Lewat Ramalan Zodiak Atau Shio, Lewat Pawukon yang Berasal dari Jawa ini Lebih Tepat & Akurat

Bukan Lewat Ramalan Zodiak Atau Shio, Lewat Pawukon yang Berasal dari Jawa ini Lebih Tepat & Akurat

Editor: Andreas Eko Prasetyo
Intisari
Pawukon 

Satu periode shio diawali dari tahun pertama yaitu Tahun Tikus yang kemudian berakhir pada tahun kedua belas yakni Tahun Babi.

Sedangkan horoskop Barat terbagi atas 12 bintang, pergantiannya tiap bulan, diawali dengan bintang Capricornus dan diakhiri oleh Sagitarius.

Sementara itu Pawukon terbagi atas 30 macam wuku yang pergantiannya berlaku setiap minggu.
Perhitungannya mulai dari hari Minggu sampai dengan Sabtu. Satu periode Pawukon diawali pada minggu pertama setiap tahun dengan Wuku Shinta, yang kemudian diakhiri pada minggu ketiga puluh dengan Wuku Watugunung.

Urutan dari ke-30 wuku tersebut adalah: Shinta, Landhep, Wukit, Kurantil, Tala, Gumbreg, Warigalit, Warigagung, Julungwangi, Sungsang, Galungan, Kuningan, Langkir, Mandasia, Julungpujut, Pahang, Kuruwelut, Mrakeh, Tambir, Madangkungan, Maktal, Wuye, Manahil, Prangbakat, Bala, Wugu, Wayang, Kulawu, Dhukut, Watugunung.

Setiap wuku memayungi kelahiran (manusia) dalam waktu satu pekan atau tujuh hari.

Perhitungan harinya pun disesuaikan dengan pasaran (pon, wage, kliwon, legi, pahing).

Dibandingkan dengan horoskop versi lain, Pawukon memiliki kelebihan. Selain memberi gambaran secara umum untuk mengetahui kondisi fisik, karakter, atau watak seseorang, setiap wuku juga mampu menemukan jenis naas (pengapesan) atau pantangan yang harus dihindari serta proyeksi "nasib" seseorang di masa datang.

Baca Juga:

Ini Jadwal Resmi MotoGP 2019, Dimulai 10 Maret

Korban Hanyut di Sungai Damai, Bisa Sampai ke Sungai Batanghari

Angin Segar Bagi PNS, TNI, Polri Hingga Pensiunan, Kenaikan Gaji 2019, Segini Besarannya

Misalnya, seseorang yang memiliki Wuku Kuiantil pantangannya adalah penekan, yakni kegiatan yang sifatnya panjat-memanjat.

Sedangkan mereka yang berwuku Gumbreg naasnya karena air, Keblabag ing Banyu.

Sesuai usia wuku, masa berlaku pantangan ini pun hanya seminggu.

Artinya, selama waktu itu orang yang bersangkutan sebaiknya menghindari hal-hal yang menjadi pantangannya.

Apakah pengapesan ini bisa menjadi kenyataan? Seorang Bung Karno yang berwuku Wayang ternyata pengapesannya Sebab Kena ing Paeka (cinidra), yakni dikhianati atau diperdaya.

Lintasan sejarah hidup proklamator ini secara jelas telah memberikan jawabannya.

Penggambaran keadaan fisik, karakter, serta sifat-sifat orang dalam setiap wuku disajikan lewat personifikasi simbol seperti dewa, manuk (burung), gedung, panji-panji, pohon, atau kayu.

Sementara naas atau pengapesan seseorang selalu disertakan dalam perlambang sambekala.

Halaman
1234
Sumber: Grid.ID
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved