LIPUTAN KHUSUS
Warga Jambi Kirim Surat ke Presiden, Kesabaran Itu Berakhir, Dinding Retak dan Lantai Ambles
"Waktu itu tidak ketemu, akhirnya cuma nitip untuk Presiden ke staf kepresidenan. Kemarin infonya ada orang kementerian ..." katanya.
Penulis: tribunjambi | Editor: Duanto AS
Kondisi ini sudah pernah ia adukan ke Pemerintah Kota Jambi.
"Sudah pernah Pak Sekda waktu itu Pak Fauzi yang sidak kemari. Tapi pas waktu itu tiba-tiba tidak ada truk lewat sampai selesai sidak," ujarnya heran.
Bahkan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga sudah ke lokasi untuk memeriksa kadar polusi udara. Tapi, anehnya ketika itu seharian tak ada truk yang melintas, bahkan mesin pembangkit juga tak menyala seharian.
“Kami nanya tapi petugasnya bilang tidak masalah," sambung Kusmiati seraya bilang ketika itu adalah hari libur.
Tak sampai di sana, upaya mereka bahkan sampai di pusat kekuasaan. Pada momen Idul Fitri pada Juni lalu ia nekat datang ke Istana Presiden di Bogor untuk mengikuti opeh house Presiden.
"Waktu itu tidak ketemu, akhirnya cuma nitip untuk Presiden ke staf kepresidenan. Kemarin infonya ada orang kementerian turun. Tapi sampai sekarang tidak ada hasilnya," katanya.
Ia pun berharap masih ada solusi dari pemerintah mengenai kondisi tempat tinggalnya saat ini yang tak lagi menjanjikan kenyamanan.
"Rumah kami ini sudah ada sejak tahun 1960-an PLN baru ada 2013 lalu, itu pun informasinya bukan PLN yang mau dibangun. Makanya kami terkejut, kami sudah ngadu sampai ke Presiden tapi belum ada solusi,” pungkasnya.

Catatan Tribun, pada Juni lalu persoalan ini pernah dibahas bersama. Itu menyusul sejumlah warga dari RT 24,25, dan 26 Kelurahan Payo Selincah, mendatangi DLH Kota Jambi. Difasilitasi DLH, mereka menggelar pertemuan bersama pihak PLN dan manajemen Pembangkit Tenaga Listrik Uap (PLTU) milik PT RPM.
Dari pertemuan tersebut, DLH Kota Jambi meminta pihak PLTU untuk melakukan beberapa hal yang sudah disepakati. Di antaranya meminta komitmen perusahaan mengurangi kebisingan dengan melakukan rekayasan teknologi, mengurangi dampak debu.
Terpisah, Kepala DLH Kota Jambi Ardi dikonfirmasi lewat telrpon pada Kamis (29/11) mrmbenarkan adanya laporan warga mengenai permohonan untuk pengecekan tingkat pencemaran udara di RT 25.
Pihaknya sudah melakukan pengecekan pada April 2018 lalu hasil pemeriksaan sudah disampaikan kepada warga dan hasilnya pun menunjukan tingkat polusi masih cukup baik.
Ia membantah jika disebut petugasnya tidak serius melakukan pengecekan. "Masa PLN libur hari Minggu. Jelas kok hasilnya sudah disampaikan dalam pertemuan dengan warga," katanya.
Namun Ardi mengaku belum tahu perihal menyebabkan rusaknya polongan sumur warga dan dinding rumah.
"Kalau soal itu kami belum tahu, tidak ada laporan sampai ke kami. Kalau ada pasti kita tindak lanjuti. Yang jelas sudah ada kesepakatan pihak PLN dengan masyarakat di sana,"
Sementara itu, salah seorang manajer PT RPSL, Galih mengakui bahwa lorong yang melintas menuju pabrik merupakan tanggung jawab pihaknya. Ia mengatakan bahwa setiap tahunya jalan tersebut terus dilakukan perbaikan.
"Iya, tapi kita terus lakukan perbaikan tiap tahun," sebutnya Minggu (2/12) malam.
