Laylin Fuad Dosen STMIK Nurdin Hamzah Passion di Bidang Pengajaran dan Coding Sejak Dulu
Di STMIK NH sendiri para pengajar mulai mengarahkan bagaimana mahasiswa bisa hidup dengan teknologi dan entrepreneur
Penulis: Nurlailis | Editor: bandot
Laporan Wartawan Tribun Jambi, Nurlailis
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Menjadi pengajar memang sudah passionnya sejak dulu.
Itulah yang membuat Laylin Fuad menjadi dosen di STMIK Nurdin Hamzah dan sekarang menjadi wakil ketua I.
Ia menceritakan mengajar dan coding adalah passionnya.
Di STMIK NH menjadi tempat yang tepat bagi dirinya untuk mengajar dan juga coding.
Ia sendiri adalah alumni STMIK NH yang lulus pada 2012 dengan konsentrasi sistem informasi.
Kemudian melanjutkan S2 di Sumatera Barat dan lulus pada 2014.
“Pada Februari 2017 diangkat menjadi wakil ketua 1. Sebelumnya saya sempat menjadi kepala labor, kepala lembaga penelitian dan penelitian masyarakat (LP2M) baru menjadi wakil ketua I,” ungkap pria kelahiran Jambi, 17 Desember 1990 ini.
Baca: Ramalan Zodiak 29 November 2018, Cancer Populer, Aquarius Buat Daftar Biar Mudah
Baca: VIDEO: Sosok Pencipta SpongeBob SquarePants, Stephen Hillenburg yang Meninggal Dunia Karena ALS
Mengenai perkembangan teknologi ia mengatakan setiap zaman punya tantangan yang berbeda.
Ia berusaha memaksimalkan semua teknologi karena memang pasionnya.
“Sebagai pengajar pun masih berkaitan dengan teknologi maka kami juga harus beradaptasi. Tentu saja jauh memudahkan daripada yang sebelumnya,” paparnya.
Penelitian yang pernah ia lakukan adalah aplikasi teknologi distributed auction bidding system (dabs) untuk keberlangsungan kemandirian petani Indonesia pada 2018-2019, pemanfaatan api dalam pembuatan sistem informasi manajemen pada BPD-damkar berbasis android sebagai upaya pembangunan smart city di Kota Jambi pada 2017-2018, dan pemanfaatan artificial intelligence dan SMS gateway dalam pembuatan aplikasi web service untuk meningkatkan integrasi data puskesmas di Kota Jambi pada 2016-2017.
Baca: Video Detik-detik Zumi Zola Datangi Rumah Sakit dan Dampingi Saat Terakhir Zulkifli Nurdin
“Dua kali lolos penelitian nasional. Hasil penelitian pertama digunakan untuk dinas kesehatan Kota Jambi untuk menampung data puskesmas di Kota Jambi, dari sana terlihat data pasien dan sebagainya karena sifatnya terintegrasi. Berikutnya kita bisa menjangkau perkembangan bencana seperti apa sehingga jangan sampai ada pertolongan yang terlambat atau tidak tepat. Sehingga masyarakat bisa turut andil melaporkan tentang bencana,” paparnya.
Di STMIK NH sendiri para pengajar mulai mengarahkan bagaimana mahasiswa bisa hidup dengan teknologi dan entrepreneur.
Beberapa contoh penggabungan itu diantaranya gojek, buka lapak, dan lainnya.
“Kita memaksa mahasiswa untuk berfikir out of the box, melihat kebutuhan masa depan itu seperti apa. Manusia itu bisa hidup tanpa harus menjadi pegawai, mereka bisa hidup dengan ide mereka sendiri,” ungkapnya.