Kisah Pasukan Elite Indonesia Harus Melawan Teman Sendiri yang Membelot, Peristiwa Ambon 1958
Semua dipersiapkan dengan matang, pendaratan pasukan elite TNI dilakukan malam hari. Peristiwa ini terjadi di Ambon pada 1958.
TRIBUNJAMBI.COM - Semua telah dipersiapkan dengan matang, pendaratan pasukan elite TNI ini dilakukan malam hari. Penyebabnya pesawat tempur musuh yang lebih canggih berseliweran, sementara pesawat angkut yang digunakan tentara Indonesia tidak dilengkapi persenjataan.
Ya, peristiwa ini terjadi pada akhir 1958.
Saat itu, Letnan I Udara Penerbang Nurasid Wahyu, pilot Maskapai Penerbangan Garuda Indonesia, diperbantukan dalam peperangan (satuan Wing Garuda).
Letnan I Penerbang Nurasid Wahyu mendapat tugas untuk mengangkut pasukan elite TNI Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) dari Jakarta menuju Ambon.
Semua pasukan elite RPKAD selanjutnya akan didaratkan ke Sulawesi menggunakan kapal perang untuk menumpas Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta).
Selain C-47 yang diterbangkan Letnan Nurasid, juga dikerahkan satu C-47 lainnya yang diterbangkan oleh Kapten Udara Penerbang Dick Suharsono yang juga Komandan Skuadron III.
Baca: Usai Pesawat Dihantam Cuaca Eksrem, RPKAD Terpaksa Jinakkan Teman Sendiri yang Membelot
Baca: Basarnas Temukan 52 Identitas dan 37 Kantong Jenazah Korban Pesawat Lion Air JT610
Baca: Kisah Cinta Anggota Kopassus yang Selalu Bawa Bekal Buatan Istri dari Rumah, Romantis dan Hormat
Baca: Kisah 1964, Pria Bercelana Tenis Lerai 2 Pasukan Elite TNI yang Adu Jotos, Masyarakat Heran
Kedua C-47 yang dikenal sebagai truk udara dan merupakan pesawat angkut militer favorit pasukan Sekutu pada PD II, itu terisi penuh pasukan RPKAD. Pesawat bertolak dari pangkalan udara Morotai.
Pada PD II, pangkalan udara ini merupakan pangkalan udara Jepang, yang selanjutnya direbut oleh pasukan Sekutu, sebagaimana dituliskan intisari online.
Sebelum berangkat, semua awak C-47 mendapat pengarahan terlebih dahulu mengenai ancaman yang akan dihadapi para penerbang.
Pesawat tempur musuh
Jika dalam penerbangan ternyata menghadapi ancaman dari pesawat-pesawat tempur AUREV, kedua C-47 disarankan untuk menghindar karena sebagai pesawat transport kedua C-47 tidak bersenjata.
Sedangkan jika menghadapi cuaca buruk, para penerbang dipersilakan menilai keadaan dan dalam kondidi darurat bisa mendarat di pangkalan udara terdekat.
Misi penerbangan kedua C-47 adalah membawa semua pasukan RPKAD dengan selamat dan bukan malah sebaliknya.
Demi menjaga kerahasiaan, kedua C- 47 AURI berangkat dari Pangkalan Udara Morotoi pada sore hari sehingga akan tiba di Lapangan Udara Pattimura saat malam.
Kedatangan pasukan elite TNI di Ambon pada malam hari itu memang disengaja, mengingat simpatisan Permesta juga berada di Ambon.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/pasukan-rpkad-dalam-pertempuran-melawan-permesta-moh-habib-asyhad_20180801_080612.jpg)