Saat Kopassus Makin Garang dengan Teknologi Canggih, Saat Pembebasan Sandera di Papua
Misi besar dan berbahaya seperi operasi Trikora, Dwikora dan pembebasan sandera dari pembajakan pesawat Indonesia
TRIBUNJAMBI.COM - Misi besar dan berbahaya seperi operasi Trikora, Dwikora dan pembebasan sandera dari pembajakan pesawat Indonesia.
Merupakan tiga dari misi besar yang sudah dikenal dunia atas aksi Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Misi pasukan khusus TNI AD, lewat Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di berbagai tempat selalu menelurkan kisah yang sangat heroik.
Baca: Ketika Tentara Hizbullah Segan dengan Kopassus yang Selamatkan Tentara Spanyol dari Kejaran Mereka
Baca: Anggota Kopassus Nyamar Jadi Pedagang Durian di Daerah Lawan, Ditantang Kecoh Patroli TNI
Misalkan saja misi selama 130 hari, Kopassus berhasil menuntaskan operasi pembebasan sandera di Papua.
Hal ini juga didukung oleh drone yang saat itu juga membantu melihat pergerakan musuh.

130 hari merupakan waktu yang panjang dalam sebuah drama penyanderaan di Mapenduma, Papua.
Dilansir TribunJambi.com dari Indomiliter.com Sebelas peneliti dari Ekspedisi Lorentz 95 mengalami tragedi yang tak terlupakan saat disandera Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Kelly Kwalik pada 8 Januari 1996.
Lewat perjuangan dan lika liku upaya pembebasan, aksi militer yang dikenal sebagai Operasi Pembebasan Sandera Mapenduma baru berakhir pada 9 Mei 1996.
Dengan kondisi geografis hutan dan pegunungan yang terjal, bukan perkara mudah bagi pasukan pemburu OPM.
Baca: Cuma Diketahui Komandannya, Kisah Kopassus ini Rela Dihujani Tembakan Teman Demi Selesaikan Misi
Baca: Layaknya Kopassus, 4 Kemampuan Yontaifib yang Bikin Teroris Dilumpuhkan hanya dalam Waktu 10 Menit
Karena menyangkut keselamatan sandera yang sebagian adalah warga negara asing, sontak dukungan peralatan mengalir kepada satuan elite Kopassus (Komando Pasukan Khusus) TNI AD yang pada akhirnya berhasil menuntaskan operasi tersebut.
Selain US Army yang meninjamkan peralatan penglihatan malam (Night Vision Goggle), negara tetangga Singapura yang saat itu sudah menjadi pionir dalam dunia drone, turut meminjamkan drone (UAV/Unmanned Aerial Vehicle) intai yang terbilang paling canggih di arsenal AU Singapura (RSAF) saat itu, yaitu Searcher, sosok drone fixed wing buatan Israel Aerospace Industries (IAI).
Seperti halnya peran drone Aerostar dari Skadron Udara 51 yang berperan aktif dalam misi intai di Operasi Tinombala, pun Searcher II dapat memberikan pantauan udara yang dapat mendukung pergerakan pasukan pemburu di darat.

Searcher II bersanding dengan UAV Heron, keduanya menjadi arsenal AU Singapura.
Oleh pihak pabrikannya, Searcher disebut sebagai multi mission tactical UAV yang mengedepankan peran surveillance, reconnaissance, target acquisition, artillery adjustment and damage assessment.
Searcher II dengan bobot (MTOW) 435 kg sanggup membawa payload hingga 120 kg.