Selasa, 2 Juni 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

'Kamu benar-benar gila!’ Letnan Ginting Catat 'Confirmed Kills' Sniper Legendaris Tatang Koswara

Tembakan awal yang sempat mengguncang jiwa Tatang Koswara, karena dia ternyata telah membunuh manusia....

Tayang:
Editor: Duanto AS
Tatang Koswara 

TRIBUNJAMBI.COM - Kisah ini tentang Tatang Koswara, penembak runduk TNI AD, yang namanya masuk jajaran sniper kelas internasional.

Peltu (Purn) TNI Tatang Koswara, merupakan veteran perang Timor Timur.

Dalam buku yang ditulis Peter Brook Smith: Trining, Technique dan Weapons, Tatang Koswara merupakan penembak runduk TNI AD dengan rekor terbaik di dunia. Dia disejajarkan dengan sniper legendaris dunia. Misalnya Simo Hayha, Lyudmila Pavlichenko dan lainnya.

Dalam suatu misi tempur Tatang menjadi seorang sniper untuk memburu pimpinan tertinggi Fretilin, Nicalau Lobato. Kadang, operasi perburuan Lobato sampai menggunakan helikopter. Butuh perjuangan keras untuk memburu Lobato, karena tokoh nomor satu Fretilin itu dijaga secara berlapis.

FB LIVE PAWAI PEMBANGUNAN:

Dalam pertempuran sengit untuk mengejar Lobato, Tatang bahkan tertembak di betis kaki kirinya. Tapi setelah membebat luka tembak dengan bendera merah putih seukuran sapu tangan yang selalu dibawanya, Tatang tetap melanjutkan pertempuran.

"Seorang sniper sejati sebenarnya yang bertempur hingga gugur di medan perang. Tapi saya bersyukur bisa selamat dari medan perang dan bisa pulang serta bercerita mengenai pengalaman tempur saya," tutur Tatang.

Baca: Kisah Anggota Kopassus Diremehkan Wartawan Thailand, Akhirnya Tumpas Semua Pembajak Pesawat

Baca: Kisah Anggota Kopassus Diremehkan Wartawan Thailand, Akhirnya Tumpas Semua Pembajak Pesawat

Baca: Penyergapan di Kalsel, 13 Penerjun Melawan saat Disergap Tentara Belanda, Cikal Bakal Paskhas

Ketika konflik bersenjata di Timor-Timur makin merugikan pasukan TNI, Tatang yang saat itu sudah selesai mengikuti pendidikan sniper dan kursus antiteror yang diselenggarakan personel pasukan Baret Hijau militer AS (Green Beret) di Pusat Pendidikan Kopassus Batu Jajar, Bandung, dengan hasil memuaskan benar-benar telah tercetak sebagai prajurit sniper yang siap tempur.

Namun, sebagai personel organik di satuannya, Tatang juga masih aktif bertugas di lingkungan Pussenif dan menjabat sebagai Bintara Komandan Peleton Komunikasi (Baton Tonkom) berpangkat Sersan Satu (Sertu).

Tugas utama Tatang di Pussenif adalah menguji persenjataan tempur ringan TNI AD setelah diperbaiki atau dikembangkan. Seperti senapan AK-47 dan G-3. Kadang Tatang menguji banyak senapan serbu dengan cara menembakkan ke sasaran sehingga melalui kesempatan uji senjata itu akurasi tembakan jitunya selalu terpelihara.

Saat tiba di Timor Timur pada 1977, Tatang membawa lengkap perlengkapan tempur sniper, Seperti pakaian kamlufase, senapan andalan Winchester M-70 yang sudah dilengkapi peredam, teleskop untuk keperluan tempur siang dan malam, peluru-peluru kaliber 7,62 mm yang dibuat khusus oleh AS, senapan serbu AK-47 sebagai wahana untuk melancarkan raid,

Dia sudah gatal untuk segera bertempur bersama para sniper dari satuan Kopassus. Tapi, tugas awal Tatang, seperti diperintahkan Kolonel Edi Sudrajat, ternyata hanya mengawal Dansatgas Pamungkas itu yang dalam perannya sebagai Dansatgasus juga harus turun ke medan tempur.

Pengawalan Tatang terhadap Kolonel Edi pun bersifat pribadi. Dalam artian, jika Dansatgasus itu diserang musuh, Tatang harus siap sebagai tameng hidup dari terjangan peluru.

Tugas sebagai pengawal pribadi Dansatgasus itu lama-lama membuat Tatang kurang berperan maksimal sebagai seorang sniper yang baru lulus dari didikan Green Beret.

Apalagi sesuai dengan doktrin pendidikannya, seorang sniper bukan hanya bertugas melaksanakan pengawalan tapi harus mampu menembus wilayah musuh secara senyap untuk melaksanakan missi intelijen.

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved