Bursa Cawapres

Siapakah Cawapres Prabowo? Antara Hasil GNPF Ulama, Suara PKS, dan Demokrat

Hingga hari ke-4 pendaftaran pasangan calon presiden/calon wakil presiden, nama cawapres pendamping Ketua Umum Gerindra Prabowo

Editor: Fifi Suryani
tribunjambi/andika arnoldy
Prabowo Subianto berkunjung ke Jambi, beri kuliah umum, Kamis (26/7/2018). 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Hingga hari ke-4 pendaftaran pasangan calon presiden/calon wakil presiden, nama cawapres pendamping Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto belum mencapai titik temu.  Situasinya ini diduga membuat koalisi pengusung Prabowo relatif mandek dalam persiapan Pilpres 2019.

Jika kubu Presiden Joko Widodo sudah disibukkan dengan penyusunan struktur tim kampanye nasional serta visi-misi pemerintahan dalam Nawacita Jilid II, perbincangan kubu Prabowo masih berkutat pada topik cawapres. Belakangan, Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani menyampaikan sosok cawapres Prabowo mengerucut menjadi dua nama.

Baca: Zulkifli Hasan Bertemu Jokowi di Istana Presiden, Soal Arah Dukungan Pilpres?

Namun, ia enggan mengungkapkan dua nama yang telah dikerucutkan menjadi cawapres pendamping Prabowo. "Pembicaraan sampai dengan tadi malam, (calon) wakil presiden yang akan mendampingi Pak Prabowo sudah mulai mengerucut dua nama," kata Muzani saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (6/8/2018).

Sebelumnya tersisa empat nama yang disebut bakal menjadi cawapres Prabowo. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan, Partai Demokrat mengusulkan Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres pendamping Prabowo.

Sementara itu, PKS dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama mengusulkan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri dan Ustaz Abdul Somad sebagai cawapres pendamping Prabowo. Di sisi lain, anggota tim pemenangan Prabowo di Pilpres 2019, Muhammad Taufik, menyatakan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga masih dipertimbangkan sebagai kandidat cawapres.

Di tengah ketidakpastian siapa cawapres yang akan dipilih, beberapa partai koalisi terlihat gusar. Koalisi mentok Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan dengan gamblang mengakui koalisi mentok karena masing-masing partai masih bersikukuh menginginkan kadernya menjadi cawapres Prabowo.

Baca: Untuk Kurangi Impor Bahan Kimia dan BBM, Kilang TPPI Akan Dihidupkan

Baca: VIDEO: Outflow Dana Asing Sudah Mereda, Saham-saham Bank BUMN Lebih Menarik

Namun demikian, Demokrat juga tak menampik besarnya peluang AHY menjadi cawapres bagi Prabowo dengan alasan mampu mendongkrak elektabilitas Prabowo. "AHY tentu punya peluang besar," kata Ketua Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand melalui pesan singkat, Jumat (3/8/2018).

Sementara itu, PKS juga berharap Salim dipilih menjadi cawapres Prabowo. Terlebih Salim direkomendasikan pula oleh GNPF Ulama sebagai cawapres Prabowo. Direktur Pencapresan DPP PKS Suhud Aliyudin berharap Gerindra akan memilih kader dari PKS sebagai cawapres sebab selama ini kedua partai telah menjalin komunikasi politik yang intensif.

"Buat kami sejak awal menyerahkan hal itu kepada Gerindra dan pak Prabowo. Jadi siapa pun yang mencalonkan tidak masalah, yang penting cawapres dari PKS. Jangan sampai pacaran dengan siapa, nikahnya dengan siapa," kata Suhud.

Yang terbaru, giliran GNPF Ulama yang menanyakan sikap koalisi Prabowo terkait dua nama yang mereka rekomendasikan sebagai cawapres, yakni Salim dan Abdul Somad. Mereka menemui Prabowo di kediaman mantan Pangkostrad itu, di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Senin (6/8/2018) malam.

Baca: Pendaftaran Capres/Cawapres, Inilah Sosok yang Lebih Disukai Pasar Modal

Baca: Pertamina Makin Agresif, Setelah Blok Rokan Incar Blok Corridor

Baca: Kemenkes Pastikan Premi BPJS Kesehatan Tetap, Berikut Rinciannya

"Pada prinsipnya Pak Prabowo sangat menghormati dan menghargai apa yang sudah dihasilkan oleh ijtima (pertemuan) ulama (GNPF)," ujar Muzani seusai pertemuan. Namun, Prabowo belum mengambil sikap atas hasil rekomendasi itu. Muzani mengatakan, figur cawapres pendamping Prabowo masih harus dikonsultasikan dengan partai calon mitra koalisi, yakni PKS, PAN, dan Demokrat.

"Kedatangan mereka untuk menanyakan bagaimana hasil pembicaraan dengan partai. Tadi Pak Prabowo menjelaskan bahwa pembicaraan sudah mulai dilakukan dan masih membutuhkan waktu kira-kira satu atau dua hari ini lagi," kata Muzani.

"Insya Allah pada waktu yang tepat beliau akan sampaikan apa hasil kesimpulannya," ucapnya. Prabowo minta waktu Prabowo mengaku masih terus membicarakan hasil rekomendasi para ulama dengan partai calon mitra koalisi.

Ia juga meminta GNPF memberikan waktu bagi koalisi untuk bermusyawarah dan membiarkan mekanisme politik berjalan. "Tentunya ini semua berharap ada keputusan. Tapi saya mengatakan, ini proses musyawarah berjalan. Kita terus mencari yang terbaik," ujar Prabowo kepada wartawan seusai pertemuan.

Baca: VIDEO: Ini Kesaksian Penumpang yang Selamat dari Kebakaran KM Satya Kencana IX

Baca: Suhu Dingin di Sejumlah Daerah, Dieng Culture Festival 2018 Diselimuti Embun Es

Baca: VIDEO: Pastikan Ada yang Meninggal, Tiga Kapal Evakuasi Puluhan Penumpang KM Satya Lencana IX

Baca: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Bisa Terdongkrak Hingga 5,3%, Terundurnya Panen Penyebabnya

"Saya sampaikan ke kawan-kawan (GNPF) tolonglah kasih kesempatan ke saya untuk musyawarah dan mekanisme politik di Indonesia berjalan," ucapnya. Namun, Muzani mengatakan, Prabowo sangat mempertimbangkan faktor soliditas partai calon mitra koalisi dalam memilih figur cawapres. Sehingga penentuan cawapres pendamping Prabowo pada Pilpres 2019 cukup memakan waktu lama.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved