Dikelilingi Ikan Predator, Begini Ketatnya Penjagaan Pulau Nusakambangan, Alcatraznya Indonesia

Langit di atas pesisir Pantai Cilacap, Jawa Tengah terlihat cerah cenderung terik. Tiupan angin yang berembus pun menyapu debu

Editor: Leonardus Yoga Wijanarko
Tribun Jateng/Adi Prianggoro
Seorang petugas Lapas Nusakambangan siap siaga menjaga lembaga permasyarakatan tersebut, 7 Februari 2014. 

TRIBUNJAMBI.COM - Langit di atas pesisir Pantai Cilacap, Jawa Tengah terlihat cerah cenderung terik.

Tiupan angin yang berembus pun menyapu debu di sekitar lokasi kami berada.

 
Teriknya sinar matahari khas pesisir pantai harus kami rasakan, sambil ditemani deburan ombak Laut Selatan.

Jumat (27/7/2018), Tribunnews.com berkesempatan mengunjungi Dermaga Wijayapura 
yang merupakan satu-satunya akses menuju Pulau Nusakambangan yang terkenal dihuni oleh ratusan narapidana kelas kakap dari seluruh penjuru Indonesia.

Jika dilihat sekilas, sistem keamanan alami dan yang sengaja diterapkan di sekeliling pulau ini hampir nyaris sempurna.

Tampak dari kejauhan saja, saat mendekati Dermaga Wijayapura, kita langsung diadang oleh portal besar lengkap dengan petugas Lembaga Pemasyarakatan (LP) Nusakambangan.

"Mau apa mendekat, keperluannya apa, dari mana anda," begitu tegur seorang petugas LP Nusakambangan yang melihat kedatangan Tribunnews.

Baca: Sony Xperia XZ3 Punya Kamera 48 Megapiksel, Ini Bocorannya

Berbicara sistem keamanan alami, pulau seluas 216 kilometer persegi itu seluruh bagian pulaunya dikelilingi perairan Laut Selatan, yang konon dihuni oleh ikan predator seperti hiu.

Tidak hanya itu, ratusan ekor ular dari 12 jenis species pun pernah dilepasliarkan di wilayah konservasi satwa liar Nusakambangan Timur pada tahun 2012.

Sementara sistem penjagaan yang diterapkan oleh aparat sipir setempat, membuat siapa pun yang mendekam di sana terisolir dari dunia luar.

Pengunjung yang hendak menjenguk rekan kerabat atau sanak famili yang menjalani masa tahanan pun harus mengikuti serangkaian mekanisme pemeriksaan yang panjang di kantor Dermaga Wijayakusuma.

Penjagaan yang ketat oleh para petugas tidak pandang bulu, pengunjung harus melewati body scaner serta beberapa tahapan penggeledahan.

"Barang berkemasan pokoknya engga boleh masuk, takutnya dibuat macem-macem, sendok sama gelas harus yang plastik," ujar Fajar, petugas jaga LP Nusakambangan.

Satu-satu nya cara pengunjung untuk sampai di Dermaga Sodong, Pulau Nusakambangan, hanya ada satu akses transportasi yang tersedia, yakni kapal feri "Pengayoman" yang dikelola oleh Kementerian Hukum dan HAM.

Sebab, tidak ada satu pun kapal komersial maupun pribadi yang diizinkan berlabuh di kedua dermaga khusus itu, selain kapal Pengayoman.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved