Apakah Alien Benar-benar Ada? Ini Kata Para Astronot

“Jika cairan dan atmosfer yang signifikan ada pada saat awal Bulan terbentuk, kami rasa permukaannya bisa dihuni untuk sementara,”

Editor: Suci Rahayu PK

TRIBUNJAMBI.COM - Bulan mungkin pernah menjadi rumah bagi para alien. Begitu ujar para ilmuwan.

Menurut mereka, makhluk luar angkasa ini diduga bisa sampai ke sana setelah ledakan meteorit.

Dan ketika itu terjadi, kondisi atmosfer bulan mungkin lebih bisa dijadikan tempat tinggal dibanding sekarang.

Baca: Terbang ke Jepang untuk Berlibur, Maia Estianty Diduga Pergi dengan Irwan Mussry

Dua ilmuwan planet senior menemukan fakta bahwa bulan punya kondisi untuk mendukung bentuk kehidupan yang sederhana sekitar empat miliar tahun lalu – terjadi selama puncak aktivitas vulkanik.

Saat itu, bulan memuntahkan sejumlah besar gas yang sangat panas dan uap air.

Gas-gas tersebut kemungkinan terbentuk menjadi cairan di permukaan dan menciptakan atmosfer yang membuat alien bertahan di sana.

“Jika cairan dan atmosfer yang signifikan ada pada saat awal Bulan terbentuk, kami rasa permukaannya bisa dihuni untuk sementara,” kata Dirk Schulze-Makuch.

Alien
Alien ()

Dirk adalah seorang ahli astrobiologi di Washington State University yang menulis studi ini bersama Ian Crawford, profesor ilmu planet dari University of London.

Bulan juga diperkirakan terbungkus dalam medan magnet yang menjaga setiap bentuk kehidupan di sana tetap aman dari angin matahari yang mematikan.

Bukti paling awal kehidupan di Bumi berasal dari sekitar 3,5 atau 3,8 miliar tahun lalu dalam bentuk sianobakteria.

Kala itu, tata surya merupakan tempat penuh kekerasan, ditandai dengan benturan meterorit yang kerap terjadi.

Menurut peneliti, ada kemungkinan beberapa kehidupan terbawa ke Bulan dari salah satu ledakan meteor tersebut.

“Tampaknya Bulan sangat bisa ditinggali pada masa itu. Mungkin saja terdapat mikroba yang berkembang di kolam air di bulan sampai permukaannya mengering,” kata Schulze-Makuch.

Para peneliti berharap studi mereka dapat memotivasi NASA dan agensi luar angkasa lain untuk melakukan eksplorasi ke bulan dan mencari tahu apakah kehidupan bisa terjadi di sana.

Alien hingga kini masih menjadi misteri.

Baca: Demi Menyenangkan Dewa Hujan, Suku Maya Kuno Melemparkan Anak Laki-laki ke Telaga

Pasalnya, meski diyakini oleh beberapa orang ada, tetapi makhluk luar angkasa ini belum pernah benar-benar ditemukan.

Namun, bagaimana orang yang pernah pergi ke luar angkasa meyakini keberadaan alien?

Jeff Hoffman, seorang astronot badan antariksa AS (NASA) meyakini adanya kehidupan lain di alam semesta.

Hoffman sendiri pernah melakukan lebih dari lima misi di antariksa dan menghabiskan 1.211 jam hidupnya di luar angkasa.

"Saya percaya ada kehidupan di tempat lain di alam semesta," ungkap Hoffman dikutip dari Mashable, Sabtu (24/03/2018).

Seperti yang kita tahu, hanya 600 orang dari sekitar 108 miliar penduduk bumi yang telah menjelajah luar angkasa.

Beberapa dari astronot tersebut kemudian duduk bersama dalam sebuah konferensi di Los Angeles dengan pembuat film Darren Aronofsky.

Mereka berkumpul bersama untuk membuat video bertajuk One Strange Rock yang ditayangkan di National Geographic pada Senin (26/03/2018).

Dalam konferensi tersebut, mereka membahas kehidupan di bumi yang ajaib.

Bayangkan saja, makhluk di bumi memiliki keunikannya sendiri.

Baca: Lagi-lagi The Sacred Riana Ciptakan Kengerian yang Buat Juri Americas Got Talent Ketakutan

Baca: Tiket Konser Syahrini Dibanderol Rp 25 Juta, Manager: Orang yang Uangnya Tak Berseri Pasti Akan Beli

Contohnya, organisme bersel satu yang muncul dari bahan anorganik, yang berevolusi karena terlindung oleh medan magnet bumi dan ozon serta oksigen dan air yang mendukung.

"Anda melihat semua sistem ini... dan ini menakjubkan, semua hal harus bersatu untuk mewujudkan realitas besar ini," kata Aronofsky.

Meski begitu, pertanyaan apakah alien benar-benar ada sangat sulit untuk dijawab.

Apalagi alam semesta angat besar sehingga untuk menemukan alien mungkin susah.

"Kami pada dasarnya telah membuktikan bahwa setiap bintang memiliki planet," ujar Chris Hadfield, seorang astronot dari Kanada.

"Lalu kamu mulai menghitung perkiraannya," imbuh pria yang telah menghabiskan 4.000 jam di luar angkasa itu.

Sayangnya, perhitungan tersebut juga sulit. Lagi-lagi masalahnya adalah betapa luasnya alam semesta. Jadi, perhitungannya pun disesuaikan dengan ukuran alam semesta.

Menurut astronot David Korneich, dalam batasan alam semesta yang teramati saja, mungkin ada septiliun bintang. Jika setiap bintang memiliki setidaknya satu planet, maka tampaknya tak terbayangkan bahwa tak ada kehidupan di tempat lain.

"(Tetapi tetap saja) kami harus memikirkan berbagai hal untuk menemukan bukti," kata Mae Jamison, astronot wanita Afrika-Amerika di luar angkasa.

Meski percaya ada kehidupan lain di luar bumi, Hoffman juga terus mencari bukti. "Sebagai ilmuwan, saya mencari bukti," ujar profesor aeronautics dan astronautics di MIT tersebut.

"Sampai sekarang, kita tidak punya bukti. Jadi saya tidak punya apapun untuk mendukung keyakinan saya. Tapi saya masih percaya," imbuhnya.

Hingga kini, kita tahu bahwa para ilmuwan dunia terus menerus menemukan bukti bahwa kehidupan bisa ada di tempat yang tak mungkin sekalipun.

Salah satunya di Etiopia. Di negara tersebut, para peneliti menemukan bakteri yang hidup di danau asam.

Bakteri tersebut bahkan hidupnya tergantung pada logam berat dan tidak membutuhkan oksigen.

Ini menjadi salah satu dugaan bahwa bisa jadi di suatu yang jauh dari bumi, ada kehidupan yang hadir. Mungkin saja ada sesuatu yang hidup di bawah es bulan Jupiter.

"Kehidupan cenderung umum, tetapi rumit. Kehidupan cerdas sangat langka," ujar Hadfield.

Artikel ini sebelumnya tayang di National Geographic Indonesia

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved