Enam Kandidat Tantang Recep Tayyip Erdogan di Pilpres Turki, Mampukah Bertahan?
Minggu (24/6/2018), rakyat Turki bakal melaksanakan hajatan politik terbesar mereka, Pemilihan Umum ( Pemilu).
Yang tidak kalah pentingnya, Ince memperoleh dukungan dari kalangan Kurdi yang berdiam di kawasan tenggara Turki.
Baca: Kabar Terbaru Rencana Uji Psikologi Bagi Pemohon SIM, Kapan Mulai Berlaku?
Baca: Penalti yang Dilakukan Carlos Vela Lampaui Catatan Piala Dunia 2014
Baca: Wow Minta Rp 5 ribu Untuk Donasi Gerindra, Ini yang Jumlah yang Diterima Prabowo Dalam 52 Jam

"Ince bisa terlihat sebagai pemenang kampanye ini. Sebab, dia bisa menyatukan kalangan konservatif dan sekuler," tutur Kirchner.
Posisi Erdogan untuk memantapkan kekuasaan juga dilanda kesulitan. Paling utama adalah ekonomi Turki yang merosot tajam.
Indikasinya adalah mata uang Turki, Lira, yang turun mengalami penurunan nilai hingga seperlima dalam enam bulan terakhir.
Kenyataan tersebut bertolak belakang dengan klaim Erdogan bahwa partainya bakal memberikan stabilitas dan kemakmuran bagi Turki.
Selain itu, Erdogan juga disorot karena memerangi kelompok Kurdi yang berada di Afrin, Suriah, hingga ke Irak karena dituduh sebagai teroris.
Meski banyak rapor merah yang mengiringi Erdogan, Stein meyakini mantan perdana menteri pada 2003-2014 itu bakal memenangkan pemilu.
Dia mencontohkan pada 2015, AKP memang kehilangan status mayoritas di parlemen.
Namun, predikat itu kemudian direbut lagi pada pemilu sela kurang dari enam bulan berselang.
Kemudian setelah kudeta militer yang gagal di 2016, Erdogan melakukan konsolidasi kekuasaan dengan menangkapi rival politiknya.
Salah satu oposisi yang harus mendekam dari balik jeruji adalah Selahattin Demirtas, ketua Partai Demokratik Rakyat Kurdi (HDP).
Demirtas merupakan salah satu dari enam kandidat presiden, dan telah memulai kampanyenya dari dalam terali besi.
Kontrol terhadap media yang dilakukan Erdogan juga memberikannya keuntungan baik bagi AKP maupun untuk sekutunya.
Video Pilihan Erdogan, Kandidat Terkuat Presiden Turki Kondisi yang tidak menguntungkan tersebut membuat oposisi berinisiatif mengubah metode kampanye mereka dengan turun langsung ke jalan.
Al Jazeera mewartakan, kandidat dari Partai Iyi, Meral Aksener, menyapa para pendukungnya dan warga, serta menyuarakan janji politik secara langsung.
"Pemilu ini sudah dibuat berdasarkan desain Erdogan. Saya yakin dia bakal mendapat kekuasaan seperti yang dia inginkan," kata Ryan Gingeras, pakar dari Naval Postgraduate School.