Pupuk Kompos Desa Dataran Kempas Beromzet Miliaran Rupiah, Kisah Jerih Payah Petani

"Mungkin orang menganggapnya orang gila barangkali, karena kami cuma mengumpulkan pelepah sawit dan kotoran sapi...."

Penulis: Wahyu Herliyanto | Editor: Duanto AS
Tribun Jambi/Wahyu Herliyanto
Warga Desa Dataran Kempas, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, yang tergabung dalam Kelompok Tani Mekar Jaya untuk memroduksi pupuk organik bernama Raja Kompos dan Ratu Kompos 

Laporan wartawan Tribun Jambi, Wahyu Herliyanto

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Penggunaan pupuk organik tentu saja jadi hal yang tak bisa dilewatkan. Sebagai bagian dari proses produksi pertanian, pupuk organik dipandang lebih natural dan sehat dibandingkan pupuk kimia.

Dengan semakin maraknya pola tanam organik, produksi pupuk organik jadi peluang mendongkrak perekonomian masyarakat.

Ini yang mendorong warga Desa Dataran Kempas, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, yang tergabung dalam Kelompok Tani Mekar Jaya untuk memroduksi pupuk organik bernama Raja Kompos dan Ratu Kompos.

Supari (47), pengurus Kelompok tani Mekar Jaya, Desa Dataran Kempas, menyampaikan produksi pupuk organik ini awal mulanya muncul dari rasa kegelisahan masyarakat kelompok tani yang bergerak di bidang ternak sapi secara koloni (sapi kandang).

Baca: 29 Peserta Ikut Pelatihan Calon Wasit Nasional Asprov PSSI Jambi

Baca: Ada Promo Roti di Hypermart, Harga Murah 4-7 Mei

Baca: Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Saat Mendesain Kamar Tidur

Pengurus kelompok tani yang merasa penghasilan ternak sapi hanya bisa didapat dalam jangka panjang, akhirnya memutar otak mencari solusi lain. Itu agar anggotanya yang sebagian besar petani kelapa sawit itu bisa memperoleh penghasilan dalam waktu jangka pendek. Akhirnya munculah ide pembuatan produksi pupuk kompos ini.

"Kelompok Tani Mekar Jaya berdiri sejak 2012, anggotanya awal mula 22 orang. Kami menyadari kalau kita diternak inikan penghasilannya cukup lama, maka kami membuat usaha pupuk organik ini. Sehingga kami alternatif karena kami sudah memiliki konsekuensinya, katakan usaha ini gagal atau berhasil setelah 5 tahun kepada anggota. Sebenarnya kami juga tidak tahu solusi apa yang harus kami lakukan untuk menjamin dan melayani anggota kami supaya anggota yakin bahwa usaha akan berhasil,"kata Supari kepada tribunjambi.com, Kamis (3/5)

Dia menjelaskan, pekerjaan pembuatan pupuk organik ini awal mula menjadi pekerjaan yang luar biasa bagi pihaknya. Hal ini mengingat produksi pupuk yang dihasilkan merupakan barang baru yang belum tentu laku dipasaran.

Namun, setelah ada kerjasama dengan PT Wira Karya Sakti (WKS) pun menilai bahwa pupuk yang dihasilkan tersebut cocok untuk tanaman produksi mereka, akhirnya perusahaan raksasa di Tanjung Jabung Barat yang bergerak pada tanaman industri itupun bersedia membelinya.

"Mungkin orang menganggapnya orang gila barangkali, karena kami cuma mengumpulkan pelepah sawit dan kotoran sapi. Ini kami katakan produksi ini antara hulu dengan hilir, karna apapun produknya kalau pembelinya sudah ada kan gak ragu lagi. Awalnya kan susah, mau jual produk inikan susah, petani aja mungkin ga percaya karena barang baru tetapi setelah dilakukan uji lab oleh PT WKS bahwa kandungannya cukup ke tanaman mereka, PT WKS pun bersedia membelinya," ujarnya

Di rumah produksinya, pupuk itu diolah dari bahan baku utama berupa kotoran hewan ternak sapi. Bahan baku utama itu, didapatkan dari peternak Desa setempat beberapa Desa di Kecamatan Tebing Tinggi, mengingat wilayah Kecamatan Tebing Tinggi merupakan lumbung ternak sapi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Katanya, untuk bahan-bahan pupuk organik ini seumpama dalam setiap satu tonnya berupa 30 persen dari kotoran ternak, 30 persen dari abu pabrik sawit, 20 persen dari sampah kering , 20 persen hehijauan (pelepah sawit yang di haluskan), E 4 satu liter perton dan gula pasir satu kilo per satu ton.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved