Green Moon Paling Banyak Di-Googling, Bulan Berwarna Hijau Pada 20 April Ternyata
Entah bagaimana, cerita awalnya diubah dan kemudian muncul tanggal 20 April. Apapun, kisah soal bulan hijau adalah...
TRIBUNJAMBI.COM - Green moon. Kata kunci itu menjadi yang banyak dicari di mesin pencari Google pada Kamis (19/4).
Kabar hoaks tentang bulan akan berwarna hijau alias green moon pada 20 April 2018, menjadi viral.
Berita hoaks ini sudah ada sejak 2016. Dan seperti berita-berita hoaks lainnya, akan berulang setiap tahun.
Situs earthsky.org, pada Kamis (19/4/2018), mencatat dalam beberapa minggu terakhir kata kunci ' Green Moon ' paling banyak dicari.
Itu berarti orang-orang Googling kata-kata bulan hijau.
Inilah versi utama dari berita hoaks ini: bulan akan muncul hijau untuk pertama kalinya dalam 420 tahun pada 20 April 2018. Benar?
"Dan itu cukup lucu ketika Anda berpikir tentang 20 April (4-20) dan 420 tahun," tulis earthsky.org.
Rumor terkait bulan hijau persisnya terjadi pada 29 Mei 2016.
Konon, pada saat itu, rembulan akan berada hanya 4 derajat dari Planet Uranus yang kehijauan.
Interaksi tersebut dikabarkan akan membuat warna hijau 'menular' ke Bulan. Tentu saja, hal semacam itu tak bakal terjadi.
Baca: 4 Menteri Diperiksa, Kasus Reklamasi Teluk Jakarta
Baca: Pajang Video Menyindir Pelakor, Warganet Bertanya Maia Estianty Belum Move On?
Baca: Dampak Jangka Panjang Penggunaan Daun Ganja Pada Otak Remaja
Entah bagaimana, cerita awalnya diubah dan kemudian muncul tanggal 20 April.
Apapun, kisah soal bulan hijau adalah mitos belaka.
Tak ada peristiwa tersebut dalam daftar peristiwa langit yang akan terjadi pada 2016.
Meski tak mungkin rembulan berubah warna jadi hijau pada 20 April dan 29 Mei 2016, sejarah mencatat satelit bumi itu tak selalu berwarna abu-abu.
Letusan dahsyat Gunung Krakatau pada Senin, 27 Agustus 1883 menciptakan fenomena angkasa.
Lewat abu vulkaniknya. Abu yang muncrat ke angkasa, membuat Bulan berwarna biru.
Seperti dimuat situs Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), beberapa partikel abu Krakatau, memiliki ukuran 1 mikron (atau satu per sejuta meter), ukuran yang tepat untuk menghamburkan warna merah, namun masih memberi peluang bagi warna lain untuk menerobos.
Sinar Bulan yang bersinar putih berubah menjadi biru, kadang hijau.
Bulan berwarna biru bertahan bertahun-tahun pasca erupsi. Kala itu, tak hanya Bulan yang penampakannya berubah.
Orang-orang saat itu juga menyaksikan Matahari berwarna keunguan seperti lavender.
Dan untuk kali pertama kalinya, awan noctilucent, awan yang sangat tinggi, membiaskan cahaya pada senja ketika matahari telah tenggelam, mengiluminasi dan menyinari langit dengan sumber cahaya yang tak tampak.
Abu membuat senja seperti terbakar. "Orang-orang di New York, Poughkeepsie, dan New Haven sampai menghubungi pemadam kebakaran, karena terlihat seperti ada kebakaran," kata vulkanolog, Scott Rowland dari University of Hawaii.
Fenomena bulan biru juga terlihat pada 1983, setelah letusan gunung berapi El Chichon di Meksiko.
Juga pasca letusan Mt. St Helens di tahun 1980 dan Gunung Pinatubo pada tahun 1991.
Bulan juga bisa berwarna merah darah.
Hal tersebut terjadi pada gerhana bulan total.
Kala itu, Matahari, dan Bulan hampir sejajar dan Bulan berada di sisi Bumi yang berlawanan dari Matahari.
Saat Bulan bergerak menuju bayangan Bumi, cahayanya meredup secara dramatis tapi biasanya tetap terlihat, disinari oleh cahaya matahari yang melewati atmosfer Bumi.
Saat cahaya ini melewati gas di planet Bumi, porsi warna hijau dan violet filter tersaring lebih banyak daripada warna merah, sehingga hasilnya, warna yang mencapai permukaan Bulan terlihat dominan merah.
Pengamat di Bumi akan melihat Bulan yang berwarna bata, merah darah, atau kadang abu-abu gelap, tergantung kondisi permukaannya.
Baca: Demi Jual Asinan, Pengacara Cantik Tinggalkan Gaji Rp 1 Miliar, Ternyata Isi Makanan Istimewa
Baca: Petugas Pakai Alat Berat Berusaha Singkirkan Material Longsor, Distribusi Barang Terganggu