Sarolangun Sulit Surplus Beras

Sampia saat ini Sarolangun belum bisa swasembada beras meski punya sawah yang cukup luas. Di Sarolangun memiliki kawasan sawah sekitar 4.700 hektar. C

Sarolangun Sulit Surplus Beras
Web
beras 

TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN – Sampia saat ini Sarolangun belum bisa swasembada beras meski punya sawah yang cukup luas. Di Sarolangun memiliki kawasan sawah sekitar 4.700 hektar. Cetakan sawah terluas ada di Kecamatan Batang Asai, Air Hitam yang selama ini menyuplai produksi beras terbesar di Sarolangun.

Dulmuin, Kepala Dinas Ketahanan Panangan Sarolangun mengatakan, setiap kali panen hasil produksi beras di Sarolangun rata-rata 6-8 ton. Dalam setahun sawah-sawah di Sarolangun bisa dua kali panen. Produksi beras juga disokong dari hasil sawah ladang, setahun bisa 1,5 sampai 2 ton setahun.

Jika mengacu pada konsumsi standar nasional 114,5 kilo per kapita per tahun, dan jumlah penduduk Sarolangun sekitar 280 ribu jiwa, kebutuhan beras di Sarolangun mencapai sekitar 32  ribu ton. Jumlah ini berbanding jauh dengan hasil produksi beras di Sarolangun yang hanya sekitar 18 ton.

Untuk mencukupi kebutuhan beras, banyak beras dari Lampung dan Kerinci yang beredar di pasaran. “Beras Sarolangun banyak, tapi kurang umum dijual, paling dikonsumsi sendiri,” kata Dulmuin, belum lama ini.

Ia juga menyarankan agar masyarakat tidak terpaku dengan beras untuk mencukupi kebutuhan karbohidrat. “Yang kita sarankan, masyarakat mulai mengkonsumsi makanan berimbang, beragam serta aman, jadi tidak selalu beras,” katanya.

Untuk itu, Dulmuin menyarankan untuk memaksimalkan pemanfaatan pekarangan, dengan menanam tanaman sumber makanan non beras, seperti ubi, pisang dan lainnya. “Sekarang ini ada yang membudidayakan ganyong di Mandiangin, ganyong itu kan kaorbohidratya tinggi. Tapi kalau jagung di sini orientasinya untuk makan ternak, bukan untuk dikonsumsi,” katanya.

Ganyong, menurut Dulmuin bisa dibuat makanan makanan olahan, seperti dodol dan lainnya. kedepan, menurutnya tanaman ganyong bisa dibudidayakan sebagai makanan lain pengganti beras. Hal ini bisa dilakukan untuk mengurangi angka ketergantungan pada konsumsi beras.

Penulis: Teguh Suprayitno
Editor: suci
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved