Sabtu, 9 Mei 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

FOTO: Perusahaan Buang Sampah Kulit Jeruk ke Taman Nasional, Tak Diduga Begini Kondisinya Sekarang!

Sekitar seribu truk bolak-balik masuk ke taman nasional, membuang lebih dari 12.000 metrik ton ampas jeruk berwarna oranye

Tayang:
Penulis: Nani Rachmaini | Editor: Nani Rachmaini
leland warden (inset: dan jansen)

TRIBUNJAMBI.COM - Pada tahun 1997, ahli ekologi Daniel Janzen dan Winnie Hallwachs memberi ide nyeleneh kepada sebuah perusahaan jus jeruk di Kosta Rika.

Karena telah menyumbangkan sebagian tanah untuk menjadi area konservasi, perusahaan tersebut diperbolehkan membuang kulit jeruk dan ampas jeruk, tanpa dipungut biaya, di kawasan hutan yang mengalami gundul.

Satu tahun kemudian, sudah sekitar seribu truk bolak-balik masuk ke taman nasional, membuang lebih dari 12.000 metrik ton ampas jeruk berwarna oranye dan lengket, ke kawasan tersebut.

https://i.upworthy.com/nugget/599da126968c1900114a28cc/attachments/OrangePeels2-c7591068e064967c967e8719e2c7b6b0.jpg?auto=format&ixlib=imgixjs-3.3.0&w=576
Sampah kulit jeruk yang pertama kali dibuang pada tahun 1996. Foto oleh Dan Janzen.

Lebih dari satu dekade kemudian, kawasan tersebut tak lagi dijamah oleh manusia. Namun peneliti telah menempatkan tanda agar peneliti masa dapan dapat menemukan dan mempelajari sesuatu.

16 tahun kemudian, Janzen mengirim mahasiswa pascasarjana Timothy Treuer untuk mencari tempat pembuangan limbah jeruk perusahaan.

Treuer awalnya berharap menemukan tumpukan kompos raksasa di lokasi tersebut, tapi alih-alih ia tidak menemukan apa-apa.

"Itu harusnya gampang ditemukan, sebuah tumpukan besar berwarna kuning cerah," kata Treuer.

Setelah berkeliaran selama setengah jam tanpa hasil, dia berkonsultasi dengan Janzen, yang memberinya petunjuk lebih rinci tentang bagaimana menemukan lokasi pembuangan limbah.

Ketika dia kembali seminggu kemudian dan memastikan dia berada di tempat yang tepat, Treuer terpana.

Dibandingkan dengan padang rumput tandus yang ada di sebelahnya, tempat pembuangan limbah makanan itu kondisinya bagai siang dan malam.

https://i.upworthy.com/nugget/599edd0af0a649001437cdec/attachments/Shot-a8175198d3e7f38cfcaed4c68e0c8bbf.jpg?auto=format&ixlib=imgixjs-3.3.0&w=576
Tempat pembuangan sisa jeruk (kiri) dan padang rumput tandus yang berdekatan (kanan). Foto oleh Leland Werden.

"Sulit dipercaya bahwa satu-satunya perbedaan antara kedua wilayah itu adalah kumpulan kulit jeruk. Rentang ini mirip ekosistem yang berbeda," ia menjelaskan.

Terlihat bahwa di bekas tempat kulit jeruk dibuang, lokasinya menjadi begitu rimbun oleh tanaman, sampai-sampai menutupi seluruh area. Sedangkan kawasan yang disebelahnya jarang pepohonan.

Karena begitu lebatnya vegetasi tanaman di bekas tempat pembuangan, dia tetap tidak bisa menemukan tandanya.

Treuer dan tim peneliti dari Princeton University mempelajari situs ini selama tiga tahun berikutnya.

Hasilnya, yang diterbitkan dalam jurnal "Restoration Ecology," menyoroti seberapa baik bagian buah yang dibuang membantu mendaurulang area tersebut.

https://i.upworthy.com/nugget/599dc71a08b3790011c02d57/attachments/OrangePeels5-1bf9966d648837a89001fe4c19e875bd.jpg?auto=format&ixlib=imgixjs-3.3.0&w=576
Teknisi laboratorium Erik Schilling mengeksplorasi tempat pembuangan kulit jeruk yang baru ditumbuhi pepohonan. Foto oleh Tim Treuer.
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved