Sabtu, 11 April 2026
Kota Jambi Bahagia
Kota Jambi Bahagia

Warisan Kincir Air, Disingkirkan Teknologi Modern

Kincir air untuk mendukung irigasi sawah telah terpinggirkan adanya sistem irigasi teknis yang menggunakan peralatan dan teknologi yang lebih modern

Editor: Suang Sitanggang
ANTARA
ilustrasi 

Oleh Dr Sunarti, SP, MP
Ketua LPIU PETUAH-CoE WAHYD Universitas Jambi

PRODUK pengetahuan dan teknologi modern saat ini sering kali dimanfaatkan untuk memanfaatkan sumberdaya alam secara eksploitatif, sehingga menimbulkan degradasi lingkungan. Selain itu telah pula memarjinalkan pengetahuan lokal yang lebih ramah lingkungan, misalnya penggunaan kincir air.

Kincir air untuk mendukung irigasi sawah telah terpinggirkan adanya sistem irigasi teknis yang menggunakan peralatan dan teknologi yang lebih modern dan mempunyai kapasitas lebih tinggi. Walaupun pada akhir tidak adaptif sehingga masyarakat sangat bergantung dan mengharapkan subsidi pada pemerintah.

Konstruksi kincir air di berbagai desa umumnya bersifat tradisional dengan menggunakan bahan-bahan sederhana yang tersedia di wilayah tersebut, seperti batang kelapa, bambu, rotan manau, rotan, dan kayu. Oleh karena itu, kapasitas dan ketahanan kincir air pun sangat bervariasi.

Kincir air secara murni digerakkan dengan memanfaatkan debit air (tanpa bahan bakar) sehingga tidak menimbulkan emisi karbon dioksida sepertihalnya mengalirkan air dengan menggunakan pump atau penggunaan diesel untuk menghasilkan listrik.

Berkaitan dengan kebutuhan debit air sungai untuk menggerakkan kincir, masyarakat akan berupaya memelihara kondisi yang mendukung tercukupinya debit air sungai untuk menggerakkan kincir seperti mempertahankan catchment area ataupun kualitas air sungai.

Desa Bukit Batu di Kecamatan Sungai Manau (Kabupaten Merangin) merupakan salah satu desa yang termasuk daerah aliran sungai (DAS) Batang Masumai. Desa Bukit Batu mempunyai potensi yang dapat dikembangkan untuk memberikan manfaat simultan terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat, melalui penggunaan kincir air.

Masyarakat Desa Bukit Batu hingga saat ini masih memanfaatkan kincir air untuk mengalirkan air irigasi ke sawah. Padahal di beberapa desa lainnya kincir air sudah mulai ditinggalkan karena adanya teknologi modern dan bahkan hancur akibat rusaknya badan sungai akibat aktiftas pertambangan emas tanpa izin (PETI).

Hal ini disebabkan masih terpeliharanya Hutan Adat Guguk yang menjamin pasokan debit air untuk menggerakkan kincir air di Desa Bukit Batu. Masyarakat Desa Bukit Batu bersama dengan masyarakat Desa Guguk mempunyai pemahaman yang baik tentang pentingnya keberadaan hutan untuk memelihara fluktuasi debit air sungai.

Kincir air di Desa Bukit Batu (DAS Batang Masumai) dibuat dari bahan yang tersedia di sekitar Desa Bukit Batu seperti bambu dan kayu. Diameter kincir yang dibuat oleh masyarakat umumnya adalah 3-4 meter.

Setiap kincir air mempunyai kapasitas untuk mengairi sawah seluas 2 ha. Adapun umur kincir air adalah 2 tahun (untuk 3-4 musim tanam). Padahal menurut hasil kajian peneliti, kincir air dengan diameter 3-4 meter mempunyai kapasitas sekitar 100-120 l/menit dan dapat mengairi sawah seluas 5 ha. Ini dapat dijadikan perbandingan bagi kita mengoptimalkan kapasitas kincir air yang dibuat.

Sumber kehidupan masyarakat Desa di Kabupaten Merangin, termasuk Desa Bukit Batu di DAS Batang Masumai umumnya adalah sawah dan ternak. Tanaman padi sangat dekat dengan adat istiadat masyarakat desa di DAS Batang Masumai, baik hukum adat maupun perayaan adat.

Oleh karena itu, masyarakat Desa Bukit Batu bergantung pada kincir air untuk mengairi sawah yang digarap untuk menghasilkan padi dan hingga saat ini kincir air di Desa Bukit Batu masih digunakan untuk mengairi sawah saja. Padahal, selain untuk mengairi sawah, kincir air juga dapat memberi manfaat lain seperti pembangkit tenaga listrik ataupun alat penumbuk padi (lesung air).

Keduanya merupakan sarana yang penting bagi masyarakat di Desa Bukit Batu untuk mendukung pengembangan ekonomi pedesaan. Hal ini membutuhkan perhatian dari pemerintah dan peneliti untuk mengembangkan pemanfaatan kincir air di Desa Bukit Batu.

Kincir air merupakan teknologi yang efektif diterapkan di pedesaan. Hal ini berkaitan dengan konstruksinya yang sederhana dan merupakan teknologi yang dibuat berdasarkan pengetahuan yang dimiliki masyarakat. Pembuatan kincir air membutuhkan biaya sekitar Rp. 2.000.000/unit.

Pembuatan kincir air umumnya dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat, karena masyarakat mempunyai modal yang terbatas. Namun dalam pemanfaatannya seringkali menimbulkan konflik antar anggota kelompok. Hal ini berkaitan dengan adanya anggota kelompok yang melanggar perjanjian yang dibuat secara tidak tertulis.

Sumber: Tribun Jambi
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved