Kisah Dukun Beranak Menangani Persalinan
Perempuan yang sudah berusia lebih dari 60 tahun itu mengaku, belakangan ini dalam satu tahun setidaknya membantu lebih dari
Ada juga yang hanya sebatas mengurut agar persalinan bisa normal, atau hanya membantu setelah ibu melahirkan, bahkan hanya sebatas mendampingi bidan.
Dia bilang, untuk persalinan akan dianjurkannya supaya ke bidan. Tapi ada-ada saja yang menolak ke bidan, memilih kepadanya merawat mulai dari saat tiga bulan di kandungan hingga kelahiran.
"Kalau orang maunya saya yang pegang, saya juga tidak bisa menolak," ucapnya. Dia bilang yang dia tolong persalinannya tanpa bidan bisa lebih dari dua orang dalam setahun.
Ia mengaku berani melakukan persalinan karena telah mendapatkan pengetahuan untuk itu, yang diperolehnya turun- temurun.
Tujuan utamanya bukan uang. Secara umum, akunya, yang dia tolong selalu berhasil.
Terkait besaran jasa, ia mengaku tidak mematok tarif. Semua tergantung ke orang yang dibantu. Berapapun yang dikasih, harus diterima dengan ikhlas. "Pantangan menetapkan tarif, biar kerelaan mereka," terangnya.
Dijelaskannya, pekerjaan dukun beranak pada dasarnya bukan hanya sebatas persalinan saja, tapi jauh lebih besar dari itu.
Misalnya saat kandungan sudah tiga bulan hingga akan melahirkan, harus dipantau kondisi bayi di dalam perut. Posisi bayi harus dipaskan dengan cara diurut.
Demikian juga saat sudah melahirkan, bayi masih harus diberi perlakuan khusus lagi, demikian juga dengan ibunya.
"Ibu bayi itu harus kita kasih ramuan semacam jamu, supaya cepat pulih tenaganya," ungkapnya.
Ramuan tersebut berupa beberapa jenis dedaunan seperti daun kates, kunyit, dan yang lainnya, yang diramu menjadi minuman untuk ibu dari bayi itu.
Sementara bayi, ucapnya, masih perlu untuk dirawat lagi supaya nantinya tidak cacat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20160910_grafis-dukun-beranak-vs-bidan_20161009_215859.jpg)