Kisah Dukun Beranak Menangani Persalinan
Perempuan yang sudah berusia lebih dari 60 tahun itu mengaku, belakangan ini dalam satu tahun setidaknya membantu lebih dari
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Namanya sebut saja Siti. Usianya sudah sepuh, 73 tahun. Dia mengatakan sudah sejak muda membantu persalinan secara tradisional. Hanya saja ia bilang, lebih kepada urut atau pijat ibu hami.
Ia mengatakan dirinya membantu persalinan sebelum waktu melahirkan. Dirinya tidak membantu saat persalinan, tapi hanya meregangkan urat-urat ibu yang mau melahirkan.
Siti pun tidak setuju kalau dirinya disebut dukun beranak. Ia lebih memilih disebut pembatra atau pengobatan alternatif.
“Kalau dukun itu seperti membantu kelahiran samo setan. Saya kan tidak pake setan tapi berserah diri pada Allah,” katanya seraya tersenyum.
Aminah mengatakan sehari dirinya menangani sampai 5 hingga 7 ibu hamil.
“Waktu kehamilannya tidak terbatas untuk diurut,” katanya nenek yang sudah punya 24 cucu ini.
Baca Juga: PERNAHKAN ALAMI INI?
KUKU MENUSUK DAGING. Tapi bingung mencabutnya?
Warga Sungai Sawang ini menjelaskan bahwa perut ibu yang akan melahirkan tidak boleh diurut. Hal itu kata dia bisa membahayakan.
Bagian yang diurut adalah bagian yang tegang. “Misalnya dia setiap hari menggunakan motor atau mobil, kakinya yang tegang maka kakinya yang diurut,” katanya.
Pembantra lainnya yang Tribun bincangi adalah Nyai, demikian ia baiasa dipanggil. Kepadanya masih saja ada ibu hamil yang datang dan meminta pertolongan dalam persalinan.
"Kadang dipanggil orang dari luar kampung ini," ucapnya warga Danau Teluk ini kepada Tribun.
Perempuan yang sudah berusia lebih dari 60 tahun itu mengaku, belakangan ini dalam satu tahun setidaknya membantu lebih dari enam orang ibu melahirkan.
Jumlah itu jauh menurun bila dibandingkan dengan satu dekade lalu. Pertolongan yang diberikannya pun berbeda-beda.
"Ada yang saya tolong mulai dari sebelum melahirkan sampai merawat bayinya termasuk lakukan persalinan," ucapnya.
Ada juga yang hanya sebatas mengurut agar persalinan bisa normal, atau hanya membantu setelah ibu melahirkan, bahkan hanya sebatas mendampingi bidan.
Dia bilang, untuk persalinan akan dianjurkannya supaya ke bidan. Tapi ada-ada saja yang menolak ke bidan, memilih kepadanya merawat mulai dari saat tiga bulan di kandungan hingga kelahiran.
"Kalau orang maunya saya yang pegang, saya juga tidak bisa menolak," ucapnya. Dia bilang yang dia tolong persalinannya tanpa bidan bisa lebih dari dua orang dalam setahun.
Ia mengaku berani melakukan persalinan karena telah mendapatkan pengetahuan untuk itu, yang diperolehnya turun- temurun.
Tujuan utamanya bukan uang. Secara umum, akunya, yang dia tolong selalu berhasil.
Terkait besaran jasa, ia mengaku tidak mematok tarif. Semua tergantung ke orang yang dibantu. Berapapun yang dikasih, harus diterima dengan ikhlas. "Pantangan menetapkan tarif, biar kerelaan mereka," terangnya.
Dijelaskannya, pekerjaan dukun beranak pada dasarnya bukan hanya sebatas persalinan saja, tapi jauh lebih besar dari itu.
Misalnya saat kandungan sudah tiga bulan hingga akan melahirkan, harus dipantau kondisi bayi di dalam perut. Posisi bayi harus dipaskan dengan cara diurut.
Demikian juga saat sudah melahirkan, bayi masih harus diberi perlakuan khusus lagi, demikian juga dengan ibunya.
"Ibu bayi itu harus kita kasih ramuan semacam jamu, supaya cepat pulih tenaganya," ungkapnya.
Ramuan tersebut berupa beberapa jenis dedaunan seperti daun kates, kunyit, dan yang lainnya, yang diramu menjadi minuman untuk ibu dari bayi itu.
Sementara bayi, ucapnya, masih perlu untuk dirawat lagi supaya nantinya tidak cacat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jambi/foto/bank/originals/20160910_grafis-dukun-beranak-vs-bidan_20161009_215859.jpg)